Tidak Pernah Cuti Berdampak Buruk Bagi Kesehatan dan Urusan Cinta

Cuti adalah hak setiap pekerja. Jika kamu punya jatah cuti tahunan tetapi sengaja tidak pernah mengambilnya dengan alasan cuti yang tidak diambil bisa diuangkan atau memang enggan mengambil cuti, hal tersebut justru bisa membahayakan dirimu sendiri. Jangan pernah berpikir bahwa mereka yang sering cuti untuk liburan adalah pegawai yang malas sementara pegawai yang tidak pernah ambil cuti adalah pegawai yang rajin. Ada alasan mengapa setiap negara mengatur jumlah cuti tahunan untuk para pekerja, termasuk pemerintah di Indonesia.

Kalau kamu termasuk golongan pegawai yang sengaja tidak mau mengambil cuti dengan alasan-alasan di atas, coba baca artikel ini sampai habis!

Tidak Pernah Cuti Liburan Merusak Hubungan Cinta dan Rumah Tangga

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Project: Time Off pada tahun 2013 di Amerika Serikat menunjukkan bahwa 42 persen pekerja di negara tersebut tidak pernah liburan. Jumlah pegawai yang mengambil cuti juga mengalami penurunan hari dari 20 hari cuti menjadi hanya 16 hari cuti pertahun. Selain berdampak buruk pada kesehatan, tidak pernah atau semakin menurunnya waktu untuk liburan ternyata berdampak buruk pada hubungan cinta dan keluarga.

Survei dilakukan pada 1.214 orang dewasa di Amerika Serikat, 85% responden yang tidak pernah menggunakan cuti liburan mengaku kehilangan waktu berkualitas bersama anak-anak mereka. Sementara itu dalam penelitian ini ditemukan bahwa 36% kasus pertengkaran pasangan terjadi karena salah satu atau keduanya terlalu sibuk dengan pekerjaan tanpa waktu santai untuk dinikmati berdua.

Melihat kondisi ini, Dr. Gilda Carle, seorang ahli dalam hal relationship dan penulis buku “Don’t Bet on the Prince!” mengungkapan bahwa banyak laporan dari konflik rumah tangga dan pasangan yang terjadi karena pasangan lebih memilih menghabiskan waktu untuk bekerja dibandingkan menikmati waktu berkualitas untuk hubungan mereka. “Terlalu sibuk bekerja sehingga mereka tidak saling berbicara sampai tiba waktunya mereka menyadari ada sesuatu yang hilang dan yang hilang tersebut adalah saling berbicara,”

Bekerja memang penting, namun waktu untuk keluarga, pasangan dan orang yang dicintai juga berharga. Tidak seharusnya waktu-waktu istimewa seperti ulang tahun, event sekolah anak, liburan, kunjungan keluarga dan perayaan Hari Raya harus dikorbankan untuk pekerjaan. Beruntung, beberapa perusahaan besar sudah menerapkan aturan bahwa pegawai mereka harus liburan, suka atau tidak suka. Sebab cuti dan liburan memang seharusnya dinikmati oleh setiap pegawai.

Tidak Pernah Cuti Liburan Merusak Kesehatan Fisik dan Mental

Jika kamu sayang kesehatan, maka pastikan semua jatah cuti tahunan kamu nikmati dan akan lebih bagus jika cuti itu dipakai untuk liburan. Sudah banyak penelitian menunjukkan hubungan antara menikmati liburan dan kesehatan. Penelitian Framingham mengambil data dari tahun 1948 hingga 1991 menunjukkan bahwa wanita yang hanya berlibur 2 kali setahun memiliki risiko terkena serangan jantung dua kali lebih besar dibanding wanita yang berlibur 6 kali dalam setahun. Para pria juga memiliki risiko yang sama. Dalam penelitian dari American Journal of Epidemiology menunjukkan bhawa pria yang bekerja sepuluh jam atau lebih setiap hari akan meningkatkan risiko jantung koroner sebanyak 80%.

Man Working At Laptop In Home Office

Selain merusak kesehatan fisik, tidak pernah atau jarangnya cuti liburan juga buruk untuk kesehatan mental. Penelitian yang dilakukan oleh Sweden’s Uppsala University menemukan bahwa orang-orang yang gemar liburan dapat meningkatkan kesehatan mental mereka, terutama jika pekerjaan mereka memicu stres dan depresi. Liburan dapat membuat mereka lebih santai dan mengurangi penggunaan obat-obat antidepresan.

Cuti dan liburan tak hanya bermanfaat untuk pegawai, sebab perusahaan bisa mendapat efek baik jika pegawai mereka memanfaatkan cuti tahunan dengan berlibur. Santa Barbara, seorang psikolog dari University of California mengungkapkan bahwa pegawai yang rutin berlibur memiliki peningkatan kinerja. Mereka menjadi lebih cepat menyelesaikan masalah secara efisien. Selain itu mereka bisa memberi lebih banyak ide-ide kreatif dalam waktu singkat dibanding rekan kerja mereka yang jarang atau tidak pernah liburan.

Sering Liburan Bukan Berarti Malas dan Buang Uang

Poin inilah yang harus dipahami pegawai, termasuk atasan, HRD dan perusahaan. Bahwa cuti yang diambil pegawai untuk berlibur bisa memberikan banyak dampak positif. Pegawai yang sering memanfaatkan cuti tahunannya untuk berlibur justru bagus untuk mereka dan perusahaan itu sendiri. Mungkin liburan seperti ini tampak seperti menghabiskan uang dan malas, padahal tidak. Maka janganlah menahan-nahan mereka jika ingin cuti dan liburan (selama jatah cuti tahunan mereka memang masih ada).

Dan untuk pegawai, jangan juga menahan-hanan cuti karena sisa cuti tahunan bisa diganti dengan uang. Kadang kebahagiaan saat liburan tidak tergantikan nilainya, apalagi jika liburan bersama pasangan, keluarga, sahabat atau orang yang kamu sayang.

Lalu bagaimana agar catatan cuti pegawai tidak tercecer dan berantakan? Serahkan saja urusan catat mencatat cuti ini pada software absensi. Urusan pencatatan beres, pegawai bahagia, urusan pekerjaan jadi lebih baik karena dari cuti liburan tersebut ada energi lebih untuk bekerja lebih efisien.

Rejeki di Kantor Tidak Melulu Tentang Gaji Tinggi

Saat sedang ngobrol santai dengan teman-teman, saya sering mendengar keluhan mengenai gaji. Wajar sih, karena sebagai pegawai, gaji adalah segala-galanya. Untuk apa kita kerja? Ya untuk dapat gaji.

Padahal jika dilihat dalam sudut pandang yang lebih luas, bekerja di sebuah perusahaan tidak sekedar mengenai gaji yang diterima setiap bulan. Berbahagialah jika kamu bekerja tidak hanya sekedar demi gaji bulanan, sebab dengan bekerja kamu dapat meningkatkan skill, punya kemampuan lain di luar jobdesk harian, melatih kesabaran (saat menghadapi boss dan rekan kerja yang kadang menyebalkan, dan yang pasti punya banyak pengalaman yang lebih dari sekedar materi.

Faktanya, banyak orang bergaji tinggi tetapi tidak bahagia dengan pekerjaannya. Ada juga pegawai dengan gaji biasa saja tapi kelihatan happy banget dan hidupnya berkecukupan. Jika menakar-nakar rejeki yang di dapat di kantor, rasanya memang kurang bijak jika hanya diukur dari nominal gaji. Memang sih.. gaji besar adalah impian banyak orang. Namun jika kamu merasa gaji yang diterima saat ini masih di angka kecil sementara teman-temanmu lebih besar nominalnya, jangan sedih! Bukan berarti Tuhan tidak sayang padamu dan pelit rejeki. Sebab ada rejeki-rejeki lain di luar gaji yang harus kamu syukuri setiap hari.

Lingkungan Kantor yang Menyenangkan

Coba lihat lingkungan perusahaan atau kantormu saat ini. Jika ruanganmu sejuk, nyaman, gampang menemukan tempat makan dan jauh dari daerah kriminal dan daerah kumuh, maka bersykurlah kamu. Di luar sana, ada banyak orang yang harus kepanasan karena ruang kerjanya tidak ber-AC bahkan pengap tanpa sirkulasi udara yang bagus.

Jika kamu masih bisa memakai headset sambil mendengarkan lagu-lagu dari PC atau smartphone-mu, itu juga rejeki. Sebab ada banyaaak perusahaan yang melarang pegawainya memutar lagu bahkan dengan memakai headset milik sendiri. Dan lebih rejeki lagi jika perusahaan tempatmu bekerja sekarang mengizinkan pegawai untuk menikmati fasilitas internet untuk nonton Youtube dan sebagainya saat jam istirahat.

Teman Kantor yang Asyik

Teman-teman kantormu masih muda, berjiwa kreatif dan anti nyinyir? Wah ini rejeki super duper yang harus kamu syukuri. Ada pepatah mengatakan kamu akan menjadi seperti orang-orang yang sering kamu jumpai. Karena mereka-mereka ini akan menjadi bagian dari hidupmu setiap hari, maka sikap dan pola pikir mereka akan menentukan kebahagiaanmu.

Saya pernah bekerja di kantor yang pegawainya sudah bapak-bapak dan ibu-ibu, yang boleh dibilang pemikirannya kurang asyik untuk pegawai muda seperti saya. Belum lagi mereka hobi bergosip yang bikin jengah. Atau iri-irian karena ada pegawai yang baru beli tas yang lumayan mahal. Begitu saya pindah ke perusahaan kreatif dengan teman-teman kantor seumuran, saya jauuuuh.. lebih bahagia. Makanya.. teman kantor yang asyik dan bikin bahagia adalah rejeki yang luar biasa.

Transparansi Gaji dan Pencatatan Payroll yang Rapi

Gajimu saat ini mungkin baru sedikit di atas UMK, tetapi jika pencatatannya rapi, itu adalah rejeki. Sebab ada banyak pegawai di luar sana yang tidak tahu berapa gaji pokoknya, berapa potongan pajak, BPJS Kesehatan dan lain sebagainya. Bahkan meminta slip gaji untuk mengajukan kredit sepeda motor ke HRD susahnya luar biasa. Maka bersyukurlah jika kamu saat ini bekerja di perusahaan yang sudah memakai software pencatatan payroll yang rapi.

Dengan transparansi gaji yang diberikan, kamu bisa memiliki catatan sendiri pada perolehan gaji, uang bonus, THR dan sebagainya. Maka kamu tidak akan menduga-duga kemana ‘hilangnya’ gaji setiap bulan karena ada potongan-potongan yang memang harus dilakukan setiap perusahaan.

Atasan yang Baik dan Loyal

Punya atasan yang baik adalah doa kedua para pegawai setelah gaji tinggi. Boleh jadi gajimu susah naik karena management atas punya banyak pertimbangan, namun jika atasanmu langsung adalah orang yang baik, loyal dan siap mendengar segala curhat yang berhubungan dengan pekerjaan, maka bersyukurlah kamu. Atasan tipe jenis ini sangat jarang ada. Sebab banyak atasan tipe boss yang arogan dan tidak mau tahu yang penting pekerjaan bawahan beres.

Boleh jadi atasanmu ini belum bisa memastikan kapan gaji kamu akan naik, namun dia bisa menjanjikan bahwa kamu bisa menceritakan keluh kesah apapun yang berhubungan dengan jobdesk dan management perusahaan. Ya.. walaupun belum ada kepastian soal gaji, setidaknya hatimu tenang karena ada atasan yang peduli dengan problem yang terjadi di area kantor.

Bisa Menikmati Hobi/Kebahagiaan di Luar Kantor

Walau gaji pas-pasan, tetapi kamu masih ada waktu untuk nonton K-Drama, atau kamu masih punya waktu untuk bereksperimen dengan masak-memasak yang jadi hobimu. Kamu juga masih ada waktu untuk kumpul-kumpul dengan keluarga dan sahabat tanpa diganggu telepon dari boss soal deadline pekerjaan. Kamu masih punya waktu di luar kantor untuk bersenang-senang dan menikmati hidup walaupun sederhana dan harus berhemat.

Janganlah iri dengan foto Instagram teman-temanmu yang sedang berlibur ke negara lain atau memajang barang-barang branded. Sebab ada banyak orang yang tidak bisa menikmati jam-jam bebasnya walaupun sedang mengambil cuti liburan. Ada.. saja telepon atau WA dari boss yang mengganggu ketentraman jiwa raga. Maka jika kamu masih menemukan banyak kebahagiaan walau sederhana di luar jam kantor, berbahagialah. Sebab hidup tak hanya untuk mengejar gaji.

8 Alasan Bohong Yang Sering Dilakukan Pegawai Demi Bolos Kerja

Wahai HRD dan para manager, kalian harus lebih ketat mengawasi pegawai yang absen kerja dengan berbagai alasan. Bisa jadi mereka beralasan sedang sakit atau ada kepentingan urgent, padahal itu hanya alasan bohong.

Memang sih.. tidak semua pegawai berbohong mengenai kondisi mereka yang butuh istirahat (saat sedang sakit misalnya) atau sedang ada kepentingan urgent (biasanya berhubungan dengan keluarga). Namun sebuah penelitian yang dilakukan oleh CareerBuilder pada tahun 2016 menemukan bahwa 35 persen pegawai pernah izin sakit padahal mereka sehat-sehat saja. Alasan terbanyak mereka berbohong adalah malas kerja dan butuh waktu untuk santai. Angka ini meningkat 5 persen dibanding penelitian yang sama pada tahun 2012. Tidak menutup kemungkinan angka ini bertambah setiap tahun.

Melihat fenomena ini, saya menanyakan beberapa teman apakah mereka pernah berbohong sedang sakit atau ada kepentingan urgent kepada atasan/HRD demi bisa bolos kantor. Ternyata, hampir semua teman saya pernah melakukan kebohongan yang sama. Inilah pengakuan mereka dengan berbagai alasan dan kebohongan yang berbeda-beda.

1. Deadline Kerjaan Belum Selesai

“Ya pernahlah ngebolos gara-gara deadline kerjaan belum beres. Alasanku pura-pura sakit, tapi aku nggak kemana-mana kok. Malah di rumah doang seharian nyelesein deadline. Kalau dikejar di kantor nggak bakal selesai karena berisik banget suasananya,” – J, 23 tahun, editor media online.

2. Butuh Waktu Sendirian

“Pernah beberapa kali ngebolos alasan nggak enak badan. Penyebabnya karena butuh waktu sendirian. Mungkin karena aku introvert kali ya? Pokoknya kalau kantor baru selesai event besar atau keluar kota pinginnya sendirian seharian. Kalau nggak gitu bisa pusing beneran hahahaha..” O, 25 tahun, pegawai sebuah event organizer.

3. Lagi Malas Kerja dan Badmood

“Kadang ngebolos karena lagi males kerja. Biasanya kalau bangun pagi udah badmood bawaannya males ngantor. Pernah juga ngebolos gara-gara lagi ada masalah sama teman kantor. Paling alasan lagi sakit, tapi nggak kemana-mana juga sih, takut ketahuan,” V, 26 tahun, back office bank swasta.

4. Ngantuk Karena Lihat Pertandingan Sepak Bola

“Pernah ngebolos sekali, gara-gara ngebelain nonton MU tanding tengah malam banget. Wah parah deh itu, tidur jam 3 subuh, bangun kesiangan banget. Daripada nelat yaudah izin nggak masuk sekalian alasannya sakit. Untung ga perlu pakai surat dokter,” A, 24 tahun, tim IT.

5. Ngejar Nonton K-Drama

“Aku pernah pura-pura izin karena sakit menstruasi. Waktu itu memang lagi menstruasi tapi nggak sampai sakit yang gimana.. Inget banget waktu itu aku lagi marathon Descendants of the Sun dan gemes tinggal 5 episode terakhir pingin cepet tau endingnya. Yaudah seharian cuma nonton sampai tamat,” Y, 28 tahun, staff finance.

6. Ingin Liburan Tapi Jatah Cuti Sudah Habis

“Pernah waktu harpitnas (Hari Kejepit Nasional) akhir tahun. Waktu itu jatah cutiku habis tapi dapat tawaran paket tour murah 4 hari ke Karimun Jawa. Yaudah bilang ke HRD kalau sakit. Tapi ya gitu, gara-gara ‘lagi sakit’ jadi nggak bisa pamer foto liburan di sosmed hahaha..” P, 27 tahun, pegawai dealer motor.

7. Pacar Datang Dari Luar Kota

“Ya pernahlah ngebolos kantor. Gara-gara setahun lalu aku mulai LDR dan pacar ada waktu buat datang ke Jakarta tapi nggak pas weekend. Yaudah aku alasan sakit satu hari. Tapi nggak berani nge-mall jauh-jauh, cuma ngafe dekat kosan dari pagi sampai malam. Cuma sekali itu sih, sisanya aku rajin dong..” H, 24 tahun, tim auditor.

8. Sedang Patah Hati

“Penah ngebolos sampai 2 hari gara-gara baru putus. Sumpah malu banget kalau inget. Beneran tapi, waktu itu aku sampai nggak makan, males mandi, dua hari cuma nangis. Alasannya sih sakit. Karena dua hari beneran kayak orang gila, begitu masuk semua percaya kalau aku baru sakit. Ahahaha.. iya sih sakit, sakit hati. Untung sekarang udah baikan dan semoga nggak terulang lagi,” I, tim kreatif televisi.

Dengan adanya kenyataan seperti ini, tentu akan lebih tepat bagi HRD untuk melakukan pengecekan dan pencatatan absensi dengan sistem yang baik. Pencatatan absensi pegawai dengan software payroll akan memudahkan alur data dari jumlah absensi hingga gaji. Selain itu, tak ada salahnya melakukan pengecekan pada pegawai yang seringkali izin masuk. Salah satu caranya bisa dengan melihat catatan kesehatan dari dokter tempat dia memeriksakan kesehatan atau penelusuran lain yang lebih cocok dengan sistem kepegawaian di perusahaan.

Kebijakan kantor mengenai absensi tentu penting jika digunakan dengan bijak dan tepat, namun hal-hal seperti kebohongan absensi akan lebih baik jika tidak menjadi kebiasaan para pegawai yang pada akhirnya berdampak pada efektivitas kerja.

“Bos, saya izin tidak masuk karena sakit,” Padahal.. Sedang Malas Kerja

Apakah kamu pernah izin sakit tidak masuk kantor padahal sebenarnya kamu tidak sedang sakit?

Well, kamu tidak sendirian jika menjawab “Pernah!”.

Siapa sih yang mau sakit? Setiap orang pasti ingin sehat dan fit sepanjang waktu. Namun ada saja kondisi kesehatan yang memaksa seorang pegawai untuk istirahat dan tidak masuk kantor. Alasan ini bisa diterima oleh HRD sebab hampir semua kantor di dunia memiliki kebijakan untuk memberikan izin tidak masuk bagi pegawai yang sedang sakit, dengan atau tanpa surat sakit dari dokter. Sayangnya, kebijakan dari kantor sering disalahgunakan oleh banyak pegawai.

30 Persen Pegawai Pernah Berbohong Sedang Sakit

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh CareerBuilder pada tahun 2012 menemukan bahwa sebanyak 30 persen pegawai yang izin sakit sebenarnya dalam kondisi sehat-sehat saja. Lalu mengapa sampai berbohong demi tidak masuk kantor? Jawaban dari pertanyaan tersebut ditemukan dalam penelitian yang sama. Alasan paling utama mengapa mereka berbohong sedang sakit adalah tidak ada keinginan untuk bekerja atau ingin malas-malasan dan butuh waktu santai.

Untuk para HRD, atasan dan teman sekantor, alasan sakit yang dibuat-buat ini tentunya mengesalkan dan merugikan. Tetapi fakta lapangan menunjukkan bahwa kebohongan ini adalah kebohongan paling populer di wilayah kantor. Dengan banyaknya kebohongan jenis ini, 29 persen dari manager yang tergabung dalam penelitian mengungkapkan bahwa mereka memeriksa dengan ketat pegawai mereka yang tidak masuk karena izin sakit. Mereka memastikan bahwa pegawai mereka benar-benar sakit dan tidak berbohong hanya karena malas kerja.

Awas Kebohonganmu Terbongkar!

Cara yang dilakukan para manager/supervisor/HRD untuk mengecek kebenaran dari sakit pegawai adalah dengan menelepon sang pegawai dan melihat rekam kesehatan yang ada pada dokter. Selain cara tersebut, para atasan bahkan sampai menanyakan pada rekan kerja pegawai tersebut untuk memastikan dia benar-benar sakit atau tidak. Sementara cara yang lebih ekstrim dilakukan atasan dengan datang langsung ke rumah/kosan tempat tinggal si pegawai. Sampai seniat itulah para atasan dan HRD mengantisipasi banyaknya absensi dengan alasan sakit yang sebenarnya bohong.

Sebagai penulis artikel ini, saya meyakini bahwa beberapa pembaca juga pernah melakukan kebohongan yang sama. Jika kamu memang pernah melakukannya, hati-hati! Sebab jika atasan atau HRD mengetahui kebohonganmu, ini akan berpengaruh pada absensi, nilai kepegawaian, gaji bahkan menunda promosi kenaikan jabatanmu. Ditambah lagi, saat ini ada banyak software payroll dan software absensi yang bisa mencatat semua ‘dosa-dosa’ yang telah kamu lakukan selama bekerja. Maka pastikan kamu tidak coba-coba berbohong sedang sakit padahal sehat-sehat saja.

Pura-Pura Sakit Paling Banyak Saat Libur Kejepit dan Setelah Libur Panjang

Masih dalam penelitian yang sama, walaupun penelitian ini dilakukan di Amerika Serikat, tenyata ada kesamaan kebiasaan buruk pegawai dengan kondisi di Indonesia. Bohong tentang sakit ini banyak dilakukan pegawai ketika menemukan hari libur yang ‘terjepit’ dan lebih banyak lagi setelah libur musim panas berakhir (kalau di Indonesia mirip dengan libur Lebaran) dan kebohongan soal sakit ini meningkat tajam ketika libur panjang awal tahun baru berakhir. Melihat fenomena ini, biasanya pihak HRD dan para atasan punya banyak cara untuk menghentikan kebiasaan berbohong para pegawainya. Cara tersebut mulai dari pemotongan gaji jika ketahuan berbohong hingga memberikan Surat Peringatan.

Dari hasil penelitian ini bisa dilihat bahwa pegawai di beberapa negara memiliki kebiasaan buruk yang sama. Maka pihak HRD memang seharusnya memiliki pengawasan ketat kepada para pegawai. Kalaupun mereka butuh waktu untuk istirahat dan ingin santai, para pegawai bisa memanfaatkan cuti tahunan mereka. Dan jika yang membaca tulisan ini adalah pegawai, tutup pikiran untuk melakukan kebohongan yang sama. Seperti yang sudah saya tuliskan di atas, kebohonganmu bisa menjadi nilai merah yang memotong gaji bahkan menunda promosi jabatanmu. Be wise!

Buat Yang Ingin Gaji Naik dan Karir Meningkat, Rajin Saja Tidak Cukup!

Jika saat ini kamu sudah bekerja di kantor, apa impianmu?

Punya penghasilan atau gaji yang besar adalah jawaban dari mayoritas pekerja. Sehingga tidak heran ada banyak sekali artikel tentang bagaimana cara agar cepat naik gaji. Hal tersebut tidak salah kok, punya gaji besar sesuai kapasitas kerja bukan impian yang buruk, justru bagus. Mematok angka gaji di nilai sekian bisa menjadi motivasi kerja.

Namun ada kalanya, kamu sudah bekerja dalam hitungan tahun tetapi gaji masih saja seret. Bahkan lebih ngenesnya, si junior yang baru masuk kerja dalam waktu yang lebih singkat sudah melejit jabatan dan gajinya. Padahal kalau dilihat-lihat, skill-nya hampir sama denganmu, bahkan kamu mungkin lebih rajin dan semangat saat bekerja. Tapi kenapa dia yang lebih cepat naik gaji dan jabatan? “Jangan-jangan si junior punya cara licik sehingga mudah sekali naik jabatan dan gaji..”

Wait a minute..

Jangan keburu berpikir yang buruk. Sebab rajin saja memang tidak cukup untuk meningkatkan karir dan gajimu. Rajin adalah hal yang bagus dan salah satu modal agar atasan dan pihak HRD memberi jalan mulus menuju impianmu. Namun jangan lupa memperhatikan hal-hal ini:

Perusahaan Menentukan Besaran Gaji

Salah satu trik mendapatkan gaji tinggi adalah melihat besar dan reputasi perusahaan sejak awal. Mengapa ada banyak orang memburu kantor-kantor besar bergengsi yang logonya sering kamu lihat di mana-mana? Karena perusahaan tersebut memiliki standar tinggi dan lebih mungkin memperhatikan kesejahteraan pegawainya, baik melalui gaji, tunjangan bahkan pendidikan si karyawan. Jika sudah diterima di perusahaan jenis ini, potensi gaji besar sudah ada sejak awal masuk.

“Yah.. tapi tempatku bekerja saat ini kantor biasa dan tidak bergengsi..”
Tenang, kamu tidak sendirian. Walaupun kantormu sekarang level medium bahkan kecil, poin-poin di bawah bisa mengantarkanmu ke gaji idaman.

Perhatikan Absensimu!

Absensi menjadi salah satu faktor yang dirancang untuk menilai produktivitas pegawai. Maka perhatikan baik-baik hal-hal seputar izin tidak masuk, keterlambatan jam masuk, izin sakit, cuti dan hal-hal seputar absensi. Faktor ini semakin diperhatikan jika kamu bekerja dalam tim. Yang mana bila salah satu sering absen akan mengacaukan kerja tim secara keseluruhan. Maka perhatikan seksama hal-hal yang berkaitan dengan absensi. Jangan sampai nilai kamu jadi minus hanya karena sering tidak masuk dan terlambat dengan alasan tidak jelas.

Ingat ya! Absensi tidak hanya sekedar pencatatan yang berhubungan dengan payroll dan gaji, sebab nilai absensi yang baik akan memudahkan jalan mulusmu untuk mendapat promosi jabatan dan kenaikan gaji. Ditambah lagi, teknologi semakin maju, semakin banyak mesin absensi yang dipakai untuk mencatat semua data absensi pegawai secara akurat. Maka pastikan nilai absensimu tidak merah!

Speak Up! Keluarkan Ide-Ide Terbaikmu

Ada 2 pegawai, yang satu skill bagus, cerdas, attitude baik dan rajin. Namun setiap kali meeting hanya diam dan baru bicara ketika ditanya. Sementara pegawai satu lagi dengan kelebihan yang sama tidak sungkan dan tidak malu mengeleuarkan ide dan pendapatnya saat meeting atau saat berbagi ide. Sudah kelihatan siapa yang lebih berpotensi mendapat promosi jabatan lebih cepat? Pegawai kedua lebih mungkin untuk memiliki karir yang lebih baik.

Kemampuan untuk berkomunikasi dan keberanian untuk berbicara menjadi salah satu kunci sukses (terutama di kantor). Slogan diam itu emas kadang tak berlaku. Maka setiap kali ada meeting dan terbuka kesempatan untuk mengeluarkan ide serta pendapat, jangan malu dan jangan takut untuk berbicara. Ini memang tidak mudah, namun bisa dilatih. Jangan takut terlihat bodoh atau salah ide, sebab tak ada ide mentah yang 100% jenius saat dicetuskan.

Kamu Harus Terkenal

Masih berkaitan dengan poin sebelumnya, pegawai yang terkenal (terutama di kalangan management atas) lebih mungkin untuk mendapat promosi jabatan dan mendapat bonus (atau kenaikan gaji). Menjadi terkenal di sini bukan berarti harus jadi ‘penjilat’ yang bersikap baik hanya untuk mendapat keuntungan bagi diri sendiri. Jadilah terkenal dengan skill-mu, sikap baikmu, dan keramahanmu.
Kenapa sih jadi terkenal itu penting?

Misalnya nih, management sedang butuh orang untuk mengerjakan sebuah proyek dan kekurangan orang, jika kamu terkenal akan skill-mu, kesempatan untuk.. “Gimana kalau kita ikut sertakan Ardi di proyek ini, dia jago banget skill desainnya. Di acara ulang tahun kantor kemarin dia yang bikin poster dan layout dekorasi acara,”

Paham kan? Pastikan kamu terkenal dengan skill yang kamu miliki dan pastikan pihak management atas mengenalimu dari skill dan hal-hal positif yang bisa membuat mereka percaya bahwa kamu memang layak untuk mendapatkan posisi yang lebih bagus dan gaji yang lebih tinggi.