5 Rintihan Hati Pegawai yang Harus Diketahui HRD

Yang namanya kerja untuk orang lain, ada saja suka dukanya. Selama kamu masih menjadi pegawai dengan jabatan apapun, kamu wajib mentaati semua peraturan perusahaan dan kebijakan management. Peraturan dan kebijakan dibuat untuk kebahagiaan semua pegawai, namun dalam praktiknya, ada saja hal-hal yang tidak tercantum di peraturan yang membuat kesal. Atau bisa jadi peraturan sudah tertulis tetapi masih saja terjadi hal-hal yang membuat para pegawai tidak nyaman.

Dunia kerja memang penuh cerita. Dari jutaan cerita yang ada, inilah 5 rintihan hati pegawai yang sebenarnya ingin disampaikan kepada HRD.

“Please, Ini Bukan Job Desk-ku,”

Di dalam satu kantor, ada banyak kepentingan dan job desk yang berbeda-beda. Mengerjakan job desk yang sudah tertulis dan disepakati adalah tanggung jawab setiap pegawai. Namun dalam praktik di lapangan, masih banyak terjadi satu pegawai mengerjakan beberapa job desk yang sebetulnya tidak termasuk sebagai job desknya.

“Aku pernah hampir tiga bulan mengerjakan proyek kerjasama dengan perusahaan produk wafer. Mulai bikin proposal sampai jadi event-nya aku yang urus. Bingung sih, karena aku di bagian editorial tapi harus ngerjain event kerjasama. Setelah sebulan jalan, aku baru tahu sebetulnya itu proyek untuk tim marcomm. Kesel banget. Karena udah terlanjur aku yang pegang, akhirnya sampai kerjasama selesai job desk-ku nambah, ngurusin editorial plus event. Alasan manager karena tim marcomm udah kebanyakan ngurusin event. Lah gimana, job desk editorialku juga banyak. HRD sih tahu, tapi diem aja. Yaudah, 3 bulan sering lembur tanpa bayaran. Ikhlas aja tapi cukup sekali,” – Rianti, 25 tahun, pegawai perusahaan media online

Kami Juga Butuh Liburan

Cuti tahunan adalah hak setiap pegawai. Entah cuti itu akan dipakai untuk liburan atau untuk apapun, setiap pegawai sudah seharusnya menikmati waktu santai untuk relaksasi dan menjernihkan pikiran yang kadang buntu dengan job desk setiap hari. Faktanya, ada banyak perusahaan yang sering menghalang-halangi cuti pegawainya dengan sejuta alasan. Bahkan saat cutipun, masih saja dikejar-kejar kerjaan. Jika sudah begini, siapa yang tahan?

“Parah banget kantorku yang lama. Masa aku udah dapat jatah cuti tahunan 12 hari tapi ribet banget urusannya kalau mau ambil cuti. Kalaupun berhasil dapat cuti, pasti selama aku liburan ditelepon melulu, nggak dari manager, nggak dari klien. Akhirnya aku akalin aja sekalian liburan ke tempat super terpencil yang nggak ada sinyal. Liburanku sebelum resign dari kantor lama ke Karimun Jawa. Hahahaha.. merdeka banget liburan tanpa telepon,” – Yulia, 26 tahun, mantan PR perusahaan agency

Sudah Tahu Kelakuan si X Buruk, Masih Saja Dipertahankan

Punya rekan kerja yang rajin dan bisa menyelesaikan semua proyek bersama-sama tanpa drama adalah kebahagiaan. Lain cerita jika memiliki rekan kerja yang luar biasa menyebalkan, apalagi jika dia satu tim. Sudah skill-nya pas-pasan, malas, tidak pernah punya ide cemerlang, sering mengeluh, sering banyak alasan dan sebagainya. Ini akan membuat jengah. Apalagi kalau penilaian kinerja berdasarkan teamwork, bagaimana mau punya nilai bagus jika ada ‘racun’ di dalam tim.

“Aku heran dengan satu rekan timku yang masih dipertahankan kantor sampai sekarang. Kerjanya nggak pernah becus dan cuma bisa ngeluh ini-itu. Padahal aku dan anak-anak lain pontang-panting ngerjain deadline event tapi kontribusi dia nol besar. Aku dan teman-teman sudah pernah cerita ke atasan tapi sampai sekarang belum ada tindakan. Denger-denger sih karena dia masih saudaraan jauh sama bos besar. Pantesan aja sampai sekarang nggak pernah dapat SP dan masih dipertahankan,” – Tobi, 28 tahun, marketing perusahaan telematika

Gaji Tidak Transparan

Gaji sering menjadi hal yang sensitif. Jika perusahaan sudah memberikan gaji sesuai peraturan dan kesepakatan lengkap dengan slip gaji, rasanya tidak ada masalah. Namun jika perusahaan masih tak mau memberikan slip gaji, bahkan tidak menjelaskan gaji pokok berapa, potongan-potongan apa saja dan belum memakai software payroll yang oke, bisa dipastikan bahwa hal ini menjadi ganjalan besar bagi pegawai.

“Tempatku kerja enak banget, orangnya kreatif-kreatif dan open minded. Cuma satu hal yang bikin nggak betah, gajinya nggak transparan. Aku heran perusahaan sebesar itu nggak pernah ngasi slip gaji. Aku nggak pernah tahu berapa gaji pokok dan potongan-potongannya. Waktu aku minta slip gaji buat syarat ambil kredit motor aja susah banget. Padahal setauku slip gaji wajib diberikan perusahaan,” – Deka, 26 tahun, pegawai perusahaan makanan

Management Banyak Mau Tapi Nggak Ada Fasilitas dan Training

Sebagai pegawai yang selalu dituntut untuk memberikan hasil kerja terbaik, tentunya harus ada dukungan dari perusahaan. Dukungan ini mulai dari lingkungan kerja yang nyaman, dukungan gadget dan semua fasilitas yang tampak fisik untuk pemakaian sehari-hari. Selain itu, dukungan berupa pendidikan atau training sudah seharusnya diberikan. Sebab, dunia profesional adalah dunia yang dinamis. Jika tak ingin ketinggalan, maka harus ada pengetahuan-pengetahuan baru yang harus diberikan kepada pegawai. Sayangnya, poin ini kadang sering tak dirasakan oleh pegawai.

“Sudah 5 tahun aku kerja di perusahaan yang lama, enak sih, tapi HRDnya pelit training. Masa sejak aku masuk nggak ada pembekalan, pelatihan, workshop atau apapun lah yang sejenis itu. Sudah pelit training, management banyak banget maunya. Belum lagi kadang wifi tewas, bikin kerjaan makin numpuk. Padahal kerjaanku harus banget didukung koneksi internet yang bagus. Pernah nih aku dan tim lagi meeting via video conferencing dengan bos-bos di Malaysia, eh di tengah meeting koneksi mati sampai 30 menit. Aku cuma ketawa dalam hati,” – Rio, 29 tahun, mantan pegawai perusahaan interior

Rintihan hati di atas hanya lima dari ratusan rintihan hati yang lain. Jika ada tim HRD yang membaca tulisan ini, semoga bisa menjadi masukan. Jika yang membaca adalah pegawai dengan rintihan hati yang sama, kamu nggak sendirian. Boleh kok kamu membahas rintihan hati ini dengan tim HRD perusahaanmu. Yang pasti, komunikasikan dengan baik agar kritik,saran dan keluhanmu bisa tersampaikan sepenuhnya. Semoga saja dunia kerja di Indonesia semakin menyamankan para pegawainya, tidak hanya dari gaji dan kesejahteraan fisik, tetapi juga kesejahteraan hati.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *