Tidak Pernah Cuti Berdampak Buruk Bagi Kesehatan dan Urusan Cinta

Cuti adalah hak setiap pekerja. Jika kamu punya jatah cuti tahunan tetapi sengaja tidak pernah mengambilnya dengan alasan cuti yang tidak diambil bisa diuangkan atau memang enggan mengambil cuti, hal tersebut justru bisa membahayakan dirimu sendiri. Jangan pernah berpikir bahwa mereka yang sering cuti untuk liburan adalah pegawai yang malas sementara pegawai yang tidak pernah ambil cuti adalah pegawai yang rajin. Ada alasan mengapa setiap negara mengatur jumlah cuti tahunan untuk para pekerja, termasuk pemerintah di Indonesia.

Kalau kamu termasuk golongan pegawai yang sengaja tidak mau mengambil cuti dengan alasan-alasan di atas, coba baca artikel ini sampai habis!

Tidak Pernah Cuti Liburan Merusak Hubungan Cinta dan Rumah Tangga

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Project: Time Off pada tahun 2013 di Amerika Serikat menunjukkan bahwa 42 persen pekerja di negara tersebut tidak pernah liburan. Jumlah pegawai yang mengambil cuti juga mengalami penurunan hari dari 20 hari cuti menjadi hanya 16 hari cuti pertahun. Selain berdampak buruk pada kesehatan, tidak pernah atau semakin menurunnya waktu untuk liburan ternyata berdampak buruk pada hubungan cinta dan keluarga.

Survei dilakukan pada 1.214 orang dewasa di Amerika Serikat, 85% responden yang tidak pernah menggunakan cuti liburan mengaku kehilangan waktu berkualitas bersama anak-anak mereka. Sementara itu dalam penelitian ini ditemukan bahwa 36% kasus pertengkaran pasangan terjadi karena salah satu atau keduanya terlalu sibuk dengan pekerjaan tanpa waktu santai untuk dinikmati berdua.

Melihat kondisi ini, Dr. Gilda Carle, seorang ahli dalam hal relationship dan penulis buku “Don’t Bet on the Prince!” mengungkapan bahwa banyak laporan dari konflik rumah tangga dan pasangan yang terjadi karena pasangan lebih memilih menghabiskan waktu untuk bekerja dibandingkan menikmati waktu berkualitas untuk hubungan mereka. “Terlalu sibuk bekerja sehingga mereka tidak saling berbicara sampai tiba waktunya mereka menyadari ada sesuatu yang hilang dan yang hilang tersebut adalah saling berbicara,”

Bekerja memang penting, namun waktu untuk keluarga, pasangan dan orang yang dicintai juga berharga. Tidak seharusnya waktu-waktu istimewa seperti ulang tahun, event sekolah anak, liburan, kunjungan keluarga dan perayaan Hari Raya harus dikorbankan untuk pekerjaan. Beruntung, beberapa perusahaan besar sudah menerapkan aturan bahwa pegawai mereka harus liburan, suka atau tidak suka. Sebab cuti dan liburan memang seharusnya dinikmati oleh setiap pegawai.

Tidak Pernah Cuti Liburan Merusak Kesehatan Fisik dan Mental

Jika kamu sayang kesehatan, maka pastikan semua jatah cuti tahunan kamu nikmati dan akan lebih bagus jika cuti itu dipakai untuk liburan. Sudah banyak penelitian menunjukkan hubungan antara menikmati liburan dan kesehatan. Penelitian Framingham mengambil data dari tahun 1948 hingga 1991 menunjukkan bahwa wanita yang hanya berlibur 2 kali setahun memiliki risiko terkena serangan jantung dua kali lebih besar dibanding wanita yang berlibur 6 kali dalam setahun. Para pria juga memiliki risiko yang sama. Dalam penelitian dari American Journal of Epidemiology menunjukkan bhawa pria yang bekerja sepuluh jam atau lebih setiap hari akan meningkatkan risiko jantung koroner sebanyak 80%.

Man Working At Laptop In Home Office

Selain merusak kesehatan fisik, tidak pernah atau jarangnya cuti liburan juga buruk untuk kesehatan mental. Penelitian yang dilakukan oleh Sweden’s Uppsala University menemukan bahwa orang-orang yang gemar liburan dapat meningkatkan kesehatan mental mereka, terutama jika pekerjaan mereka memicu stres dan depresi. Liburan dapat membuat mereka lebih santai dan mengurangi penggunaan obat-obat antidepresan.

Cuti dan liburan tak hanya bermanfaat untuk pegawai, sebab perusahaan bisa mendapat efek baik jika pegawai mereka memanfaatkan cuti tahunan dengan berlibur. Santa Barbara, seorang psikolog dari University of California mengungkapkan bahwa pegawai yang rutin berlibur memiliki peningkatan kinerja. Mereka menjadi lebih cepat menyelesaikan masalah secara efisien. Selain itu mereka bisa memberi lebih banyak ide-ide kreatif dalam waktu singkat dibanding rekan kerja mereka yang jarang atau tidak pernah liburan.

Sering Liburan Bukan Berarti Malas dan Buang Uang

Poin inilah yang harus dipahami pegawai, termasuk atasan, HRD dan perusahaan. Bahwa cuti yang diambil pegawai untuk berlibur bisa memberikan banyak dampak positif. Pegawai yang sering memanfaatkan cuti tahunannya untuk berlibur justru bagus untuk mereka dan perusahaan itu sendiri. Mungkin liburan seperti ini tampak seperti menghabiskan uang dan malas, padahal tidak. Maka janganlah menahan-nahan mereka jika ingin cuti dan liburan (selama jatah cuti tahunan mereka memang masih ada).

Dan untuk pegawai, jangan juga menahan-hanan cuti karena sisa cuti tahunan bisa diganti dengan uang. Kadang kebahagiaan saat liburan tidak tergantikan nilainya, apalagi jika liburan bersama pasangan, keluarga, sahabat atau orang yang kamu sayang.

Lalu bagaimana agar catatan cuti pegawai tidak tercecer dan berantakan? Serahkan saja urusan catat mencatat cuti ini pada software absensi. Urusan pencatatan beres, pegawai bahagia, urusan pekerjaan jadi lebih baik karena dari cuti liburan tersebut ada energi lebih untuk bekerja lebih efisien.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *