5 Rintihan Hati Pegawai yang Harus Diketahui HRD

Yang namanya kerja untuk orang lain, ada saja suka dukanya. Selama kamu masih menjadi pegawai dengan jabatan apapun, kamu wajib mentaati semua peraturan perusahaan dan kebijakan management. Peraturan dan kebijakan dibuat untuk kebahagiaan semua pegawai, namun dalam praktiknya, ada saja hal-hal yang tidak tercantum di peraturan yang membuat kesal. Atau bisa jadi peraturan sudah tertulis tetapi masih saja terjadi hal-hal yang membuat para pegawai tidak nyaman.

Dunia kerja memang penuh cerita. Dari jutaan cerita yang ada, inilah 5 rintihan hati pegawai yang sebenarnya ingin disampaikan kepada HRD.

“Please, Ini Bukan Job Desk-ku,”

Di dalam satu kantor, ada banyak kepentingan dan job desk yang berbeda-beda. Mengerjakan job desk yang sudah tertulis dan disepakati adalah tanggung jawab setiap pegawai. Namun dalam praktik di lapangan, masih banyak terjadi satu pegawai mengerjakan beberapa job desk yang sebetulnya tidak termasuk sebagai job desknya.

“Aku pernah hampir tiga bulan mengerjakan proyek kerjasama dengan perusahaan produk wafer. Mulai bikin proposal sampai jadi event-nya aku yang urus. Bingung sih, karena aku di bagian editorial tapi harus ngerjain event kerjasama. Setelah sebulan jalan, aku baru tahu sebetulnya itu proyek untuk tim marcomm. Kesel banget. Karena udah terlanjur aku yang pegang, akhirnya sampai kerjasama selesai job desk-ku nambah, ngurusin editorial plus event. Alasan manager karena tim marcomm udah kebanyakan ngurusin event. Lah gimana, job desk editorialku juga banyak. HRD sih tahu, tapi diem aja. Yaudah, 3 bulan sering lembur tanpa bayaran. Ikhlas aja tapi cukup sekali,” – Rianti, 25 tahun, pegawai perusahaan media online

Kami Juga Butuh Liburan

Cuti tahunan adalah hak setiap pegawai. Entah cuti itu akan dipakai untuk liburan atau untuk apapun, setiap pegawai sudah seharusnya menikmati waktu santai untuk relaksasi dan menjernihkan pikiran yang kadang buntu dengan job desk setiap hari. Faktanya, ada banyak perusahaan yang sering menghalang-halangi cuti pegawainya dengan sejuta alasan. Bahkan saat cutipun, masih saja dikejar-kejar kerjaan. Jika sudah begini, siapa yang tahan?

“Parah banget kantorku yang lama. Masa aku udah dapat jatah cuti tahunan 12 hari tapi ribet banget urusannya kalau mau ambil cuti. Kalaupun berhasil dapat cuti, pasti selama aku liburan ditelepon melulu, nggak dari manager, nggak dari klien. Akhirnya aku akalin aja sekalian liburan ke tempat super terpencil yang nggak ada sinyal. Liburanku sebelum resign dari kantor lama ke Karimun Jawa. Hahahaha.. merdeka banget liburan tanpa telepon,” – Yulia, 26 tahun, mantan PR perusahaan agency

Sudah Tahu Kelakuan si X Buruk, Masih Saja Dipertahankan

Punya rekan kerja yang rajin dan bisa menyelesaikan semua proyek bersama-sama tanpa drama adalah kebahagiaan. Lain cerita jika memiliki rekan kerja yang luar biasa menyebalkan, apalagi jika dia satu tim. Sudah skill-nya pas-pasan, malas, tidak pernah punya ide cemerlang, sering mengeluh, sering banyak alasan dan sebagainya. Ini akan membuat jengah. Apalagi kalau penilaian kinerja berdasarkan teamwork, bagaimana mau punya nilai bagus jika ada ‘racun’ di dalam tim.

“Aku heran dengan satu rekan timku yang masih dipertahankan kantor sampai sekarang. Kerjanya nggak pernah becus dan cuma bisa ngeluh ini-itu. Padahal aku dan anak-anak lain pontang-panting ngerjain deadline event tapi kontribusi dia nol besar. Aku dan teman-teman sudah pernah cerita ke atasan tapi sampai sekarang belum ada tindakan. Denger-denger sih karena dia masih saudaraan jauh sama bos besar. Pantesan aja sampai sekarang nggak pernah dapat SP dan masih dipertahankan,” – Tobi, 28 tahun, marketing perusahaan telematika

Gaji Tidak Transparan

Gaji sering menjadi hal yang sensitif. Jika perusahaan sudah memberikan gaji sesuai peraturan dan kesepakatan lengkap dengan slip gaji, rasanya tidak ada masalah. Namun jika perusahaan masih tak mau memberikan slip gaji, bahkan tidak menjelaskan gaji pokok berapa, potongan-potongan apa saja dan belum memakai software payroll yang oke, bisa dipastikan bahwa hal ini menjadi ganjalan besar bagi pegawai.

“Tempatku kerja enak banget, orangnya kreatif-kreatif dan open minded. Cuma satu hal yang bikin nggak betah, gajinya nggak transparan. Aku heran perusahaan sebesar itu nggak pernah ngasi slip gaji. Aku nggak pernah tahu berapa gaji pokok dan potongan-potongannya. Waktu aku minta slip gaji buat syarat ambil kredit motor aja susah banget. Padahal setauku slip gaji wajib diberikan perusahaan,” – Deka, 26 tahun, pegawai perusahaan makanan

Management Banyak Mau Tapi Nggak Ada Fasilitas dan Training

Sebagai pegawai yang selalu dituntut untuk memberikan hasil kerja terbaik, tentunya harus ada dukungan dari perusahaan. Dukungan ini mulai dari lingkungan kerja yang nyaman, dukungan gadget dan semua fasilitas yang tampak fisik untuk pemakaian sehari-hari. Selain itu, dukungan berupa pendidikan atau training sudah seharusnya diberikan. Sebab, dunia profesional adalah dunia yang dinamis. Jika tak ingin ketinggalan, maka harus ada pengetahuan-pengetahuan baru yang harus diberikan kepada pegawai. Sayangnya, poin ini kadang sering tak dirasakan oleh pegawai.

“Sudah 5 tahun aku kerja di perusahaan yang lama, enak sih, tapi HRDnya pelit training. Masa sejak aku masuk nggak ada pembekalan, pelatihan, workshop atau apapun lah yang sejenis itu. Sudah pelit training, management banyak banget maunya. Belum lagi kadang wifi tewas, bikin kerjaan makin numpuk. Padahal kerjaanku harus banget didukung koneksi internet yang bagus. Pernah nih aku dan tim lagi meeting via video conferencing dengan bos-bos di Malaysia, eh di tengah meeting koneksi mati sampai 30 menit. Aku cuma ketawa dalam hati,” – Rio, 29 tahun, mantan pegawai perusahaan interior

Rintihan hati di atas hanya lima dari ratusan rintihan hati yang lain. Jika ada tim HRD yang membaca tulisan ini, semoga bisa menjadi masukan. Jika yang membaca adalah pegawai dengan rintihan hati yang sama, kamu nggak sendirian. Boleh kok kamu membahas rintihan hati ini dengan tim HRD perusahaanmu. Yang pasti, komunikasikan dengan baik agar kritik,saran dan keluhanmu bisa tersampaikan sepenuhnya. Semoga saja dunia kerja di Indonesia semakin menyamankan para pegawainya, tidak hanya dari gaji dan kesejahteraan fisik, tetapi juga kesejahteraan hati.

Jadi Pegawai Outsourcing Banyak Ruginya, Fakta atau Mitos?

Sebelum tahun 2010, banyak calon pekerja yang enggan untuk menjadi pegawai outsourcing. Alasannya karena status pegawai outsourcing lebih banyak merugikan pegawai. Jenjang karir yang hampir tidak ada, gaji yang dipotong oleh perusahaan penyedia outsourcing dan seringkali kesejahteraan pegawai tidak diperhatikan.

Apa sih outsourcing itu?

Menurut Undang Undang No. 13 Tahun 2003 tentang ketenagakerjaan, outsourcing (alih daya) adalah penyediaan tenaga kerja. Dalam hal ini, perusahaan outsourcing adalah perusahaan yang menyediaan tenaga kerja untuk dipekerjakan pada perusahaan lain. Sedangkan pegawai outsourcing adalah pegawai yang terdaftar pada perusahaan outsourcing tetapi bekerja pada perusahaan lain sesuai kontrak yang telah disepakati.

Dalam hal ini, maka semua tanggung jawab yang berkaitan dengan gaji, HRD dan kesejahteraan pegawai outsourcing menjadi tanggung jawab perusahaan outsourcing. Pegawai outsourcing akan diberikan kontrak kerja dengan masa kontrak yang beragam. Tanggung jawab dan job desk pegawai outsourcing biasanya lebih spesifik sehingga bidang pekerjaannya sesuai dengan skill yang dimiliki.

Walaupun keberadaan perusahaan outsourcing telah diatur dalam undang-undang, dalam praktik lapangan seringkali ditemukan pegawai yang mengeluhkan bahwa potongan gaji yang diberikan untuk perusahaan outsourcing cukup banyak dan kesejahteraan yang tidak diperhatikan dengan baik. Dengan tidak adanya keterikatan pegawai outsourcing dengan perusahaan tempat bekerja, maka akan lebih sulit bagi mereka untuk memiliki jenjang karir dibanding pegawai kontrak atau pegawai tetap yang langsung berada di bawah tanggung jawab perusahaan tempat bekerja.

Sebenarnya, menjadi pegawai outsourcing tidak selamanya merugikan. Beberapa teman saya yang menjadi pegawai outsourcing setelah lulus kuliah mengatakan bahwa menjadi pegawai outsourcing dapat memperdalam skill sekaligus terjun langsung di dunia profesional. Waktu setahun atau dua tahun masa kontrak bisa menjadi batu lompatan untuk jenjang karir selanjutnya di perusahaan lain.

Dengan pertimbangan itu, maka tak ada salahnya membangun awal karir sebagai pegawai outsourcing. Agar kesejahteraanmu tetap terjaga, beberapa hal ini harus diperhatikan:

1. Jadi ‘Batu Lompatan’

Dengan sistem yang ada pada perusahaan outsourcing, maka status sebagai pegawai outsourcing memang lebih cocok untuk fresh graduate. Banyak perusahaan yang meminta syarat pengalaman kerja 1 atau 2 tahun. Dengan memanfaatkan sistem outsourcing, kamu bisa bekerja dengan skill yang sesuai dengan ilmu yang sudah kamu pelajari di bangku kuliah. Tentu saja dengan catatan kamu memang ingin mengembangkan dan mendalami skill tersebut serta ingin bekerja di bidang yang sesuai dengan jurusan saat kuliah.

Jika memang ini adalah tujuanmu maka tidak ada salahnya mencoba untuk bergabung dengan perusahaan outsourcing. Mereka bisa mengatarkanmu ke perusahaan-perusahaan yang membutuhkan pegawai dengan kualitas skill dan pengetahuan sesuai dengan yang kamu miliki.

2. Perkiraan Biaya Hidup dan Potongan Gaji

Sudah jadi rahasia umum bahwa gaji pegawai outsourcing akan dipotong sekian persen untuk perusahaan outsourcing. Maka pastikan kamu tahu berapa gaji pokok yang akan diterima, berapa potongan untuk perusahaan outsourcing dan berapa potongan-potongan lainnya (untuk pajak penghasilan, BPJS dan sebagainya). Kamu harus menghitung secara rinci berapa biaya hidupmu dan berapa perkiraan gaji bersih yang kamu terima.

Hal ini akan semakin penting jika kamu menerima pekerjaan di luar kota. Pastikan kamu tidak ‘rugi’ karena harus ada biaya tambahan untuk kos, biaya hidup sehari-hari dan transportasi. Jangan sampai kamu asal ambil tawaran padahal antara pendapatan dan pengeluaran bulanan tidak seimbang. Mengambil kesempatan boleh saja, namun kamu juga harus melihat realita.

3. Detail Rincian Kontrak

Kontrak. Satu kata yang harus kamu perhatikan secara rinci per kalimat demi kalimat. Jangan langsung menandatangi berkas-berkas  yang diserahkan padamu. Baca dan pelajari dulu dengan teliti dan tanyakan jika ada bagian yang tidak kamu mengerti. 3 hal yang harus kamu perhatikan:

a. Berapa lama kontrak?

Ini harus jelas. Misal kontrak kerja 2 tahun. Apakah setelah 2 tahun kamu bisa langsung mengakhiri kontrak atau ada syarat lainnya? Seringkali pegawai outsourcing kesulitan mengakhiri kontrak kerja walau masa kontrak telah berakhir karena ada syarat dan ketentuan berlaku. Pastikan kamu paham akan hal ini. Sebab waktu sangat berharga di usia produktifmu.

b. Denda/ganti rugi jika berhenti/diberhentikan sebelum kontrak selesai

Bagian ini juga harus jelas sebab perusahaan biasanya memberi denda atau nominal ganti rugi yang sangat besar jika pegawai kontrak memutuskan berhenti/resign sebelum masa kontrak berakhir. Kamu harus memastikan bagian ini, termasuk jika terjadi pemutusan hubungan kerja sebelum masa kontrak selesai, apakah kamu akan mendapat ganti rugi.

c. Aturan baru apakah mengubah kontrak kerja?

Seiring waktu berjalan setelah penandatanganan kontrak, sangat mungkin ada perubahan peraturan baik di perusahaan tempat bekerja atau pada perusahaan outsourcing. Jika terjadi perubahan aturan, tanyakan langsung apakah berpengaruh pada kontrak kerja yang sudah disepakati atau tidak? Ini tentu penting apalagi jika peraturan itu berhubungan dengan lama kontrak kerja dan hal-hal  yang berhubungan dengan kesejahteraan pegawai outsourcing.

4. Sesuaikan Kontrak Perjanjian dan Rencana Hidup

Adanya kontrak kerja tentu akan berpengaruh pada rencana-rencana hidupmu selama masa kontrak yang terlah disepakati. Misalnya saja kamu berencana menikah setahun yang akan datang. Namun kamu berhadapan dengan kontrak kerja 2 tahun yang mengharuskan kamu tidak boleh menikah selama masa kerja belum berakhir. Maka hal ini harus menjadi pertimbangan tidak hanya oleh kamu, tetapi juga pihak-pihak yang bersangkutan. Hal lain yang jadi pertimbangan adalah kehamilan, keharusan pindah kota/negara dan sebagainya.

Rencana dan kontrak yang jelas akan menjadi awal mula perjalanan karirmu. Dengan status sebagai pegawai outsourcing, kamu bisa mendapat pengalaman yang banyak dan menjadi bekal untuk jenjang karir selanjutnya. Semoga artikel ini bisa memuluskan langkah dan cita-citamu.

Kok Gajiku Banyak Potongan? Apa Gunanya Untuk Saya?

Bila kamu adalah fresh graduate yang baru saja mendapat pekerjaan, saya ucapkan selamat. Mulai saat ini kamu sudah bergabung di dunia yang penuh dengan warna dan tanggung jawab. Kamu masih anak baru, masih harus beradaptasi pada job desk dan lingkungan kantor lengkap dengan semua suka dukanya.

Jujur deh, satu hal yang paling kamu tunggu-tunggu pasti gaji bulanan pertama. Tentu kamu gembira saat pihak HRD memberikan nominal gaji sekian saat penandatanganan surat perjanjian atau surat kontrak kerja. Tapi.. saat akhir bulan kamu agak kecewa melihat slip gaji. Ada banyak sekali potongan yang membuat angka gajimu tidak utuh lagi.

Kemudian kamu bertanya-tanya, mengapa ada banyak potongan gaji? Kok rasanya dirugikan sekali sebab angkanya tidak sedikit. Lalu apa gunanya potongan-potongan gaji itu untuk kamu?

Coba baca dulu penjelasan di bawah, sebab setiap potongan gaji yang kelihatannya ‘merugikan’ kamu itu sebenarnya memberi manfaat yang banyak.

Pajak penghasilan (PPh)

Pengertian pajak penghasilan atau lebih sering disebut PPh pasal 21 berdasarkan Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-32/PJ/2015 adalah pajak atas penghasilan berupa gaji, upah, honorarium, tunjangan dan pembayaran lain dengan nama dan dalam bentuk apa pun sehubungan dengan pekerjaan atau jabatan, jasa, dan kegiatan yang dilakukan oleh orang pribadi subyek pajak dalam negeri.

Singkatnya, PPh pasal 21 akan memotong total gajimu satu tahun jika nilainya di atas Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP). Saat tulisan ini dipublikasikan, PTKP tahun 2017 adalah Rp54.000.000,- per tahun. Jadi jika total penghasilanmu setahun di bawah angka tersebut, maka gajimu tidak dipotong pajak. PTKP dapat berubah jika statusmu sudah menikah dan memiliki anak.

Apa gunanya?

Karena pajak sudah diatur dalam undang-undang, maka guna dari potongan ini adalah melaksanakan kewajibanmu sebagai Wajib Pajak orang pribadi kepada negara. Sebagai pemberi kerja, maka perusahaan tempatmu bekerja wajib mencatat pemotongan pajak ini sebagai  bukti untuk pelaporan SPT pajak setiap tahun.

BPJS

Mendaftarkan pekerja sebagai peserta BPJS adalah kewajiban perusahaan. Undang-undang telah mengatur bahwa setiap pekerja di Indonesia, termasuk warga negara lain yang telah bekerja di Indonesia setidaknya 6 bulan wajib menjadi peserta BPJS.

Menurut Undang-Undang No 24 tahun 2012 tentang BPJS, disebutkan bahwa “Pemberi Kerja secara bertahap wajib mendaftarkan dirinya dan Pekerjanya sebagai Peserta kepada BPJS sesuai dengan program Jaminan Sosial yang diikuti.”

Iuran BPJS Kesehatan dibayarkan sebagian oleh pemberi kerja dan sebagian lagi memotong gaji pekerja. Selain BPJS Kesehatan, pemberi kerja juga memiliki kewajiban mendaftarkan pekerjanya dalam BPJS Ketenagakerjaan yang terdiri dari Jaminan Hari Tua, Jaminan Kecelakaan Kerja, Jaminan Kematian dan Jaminan Pensiun.

Apa gunanya?

Keikutsertaan BPJS akan membuat para pekerja terlindungi. Saat kamu sakit, maka seluruh biaya akan ditanggung oleh BPJS Kesehatan (sesuai ketentuan dalam BPJS Kesehatan). Demikian juga untuk BPJS Ketenagakerjaan, pemotongan gajimu setiap bulan berguna untuk menjadi perlindungan dari kecelakaan kerja, hingga menjadi jaminan hari tua.

Girl in white and falling dollar banknotes. Currency and lottery concept. Young woman is thinking.

Asuransi kesehatan

Beberapa perusahaan, selain menggunakan BPJS Kesehatan juga mengikutsertakan pegawainya dalam asuransi kesehatan. Ini adalah pilihan bagi perusahaan. Namun jika perusahaan memiliki kebijakan memakai produk asuransi kesehatan, maka kamu mau tidak mau juga akan mendapati potongan asuransi kesehatan pada gaji.

Apa gunanya?

Seperti kita ketahui, BPJS Kesehatan dalam praktiknya masih belum rapi dan banyak kendala. Belum lagi antrian super panjang di rumah sakit atau fasilitas kesehatan yang terdaftar pada BPJS Kesehatan. Maka jika kamu memiliki asuransi kesehatan lain dari perusahaan tempat bekerja, maka pelayanan kesehatan yang diberikan cenderung lebih baik dan mudah dibanding BPJS Kesehatan.

Potongan pinjaman

Potongan ini baru muncul jika kamu mengajukan pinjaman uang pada perusahaan. Biasanya ada kesepakatan bahwa untuk melunasi pinjaman tersebut, maka akan dicicil dari pemotongan gaji setiap bulan.

Apa gunanya?

Kebijakan pinjaman uang ini bertujuan untuk membantu pegawai yang membutuhkan dana cepat. Biasanya pengauan pinjaman lebih mudah dan tidak memakai syarat administrasi yang banyak. Meski demikian, saran saya, walaupun pengajuan pinjaman di perusahaan cukup mudah, ambilah pinjaman jika memang ada kondisi mendesak dan urgent saja.

Potongan absensi

Beberapa perusahaan memiliki kebijakan  bahwa setiap keterlambatan kerja atau absen tanpa kejelasan, maka akan berdampak pada pemotongan sekian persen gaji setiap bulan. Kalau kamu rajin dan tidak pernah bolos kerja maka potongan ini tidak akan muncul di slip gajimu.

Apa gunanya?

Untuk mendisiplinkan pegawai.

Masih ada beberapa potongan lain yang tidak ada dalam tulisan di atas. Jika memang ada, tanyakanlah kepada pihak HRD potongan tersebut untuk apa sebab kamu berhak mengetahui semua data gaji beserta potongan-potongannya. Jangan khawatir bahwa potongan gajimu akan tertukar dengan milik rekan kerja yang lain. Sebab pencatatan payroll semakin hari semakin mudah dengan adanya software payroll.

Mulai sekarang, jangan khawatir lagi akan pemotongan gaji, sebab potongan-potongan tersebut walau tampak merugikan, sebenarnya lebih banyak memberi perlindungan tak tampak untukmu saat ini dan saat tua nanti.

Saya Tidak Pernah Dapat Slip Gaji, Apakah Itu Wajar?

Hore… akhirnya kamu mendapat pekerjaan dan mendapat gaji setiap bulan. Kamu akhirnya bisa memenuhi kebutuhan hidup sendiri tanpa bergantung pada orang tua. Akhirnya kamu bisa menabung bahkan bisa membantu urusan ekonomi keluarga.

Tapi oh tapi, saat berkumpul dengan teman-teman yang bekerja di kantor berbeda, kamu menyadari ada yang tidak beres di kantormu. Semua teman bercerita bahwa mereka selalu diberi slip gaji setiap bulan, tetapi kamu tidak pernah dapat. Bahkan saat kamu butuh slip gaji sebagai syarat untuk mengambil kredit sepeda motor, pihak HRD tidak mau memberikan dengan jutaan alasan.

“Perusahaan wajib memberi slip gaji sebagai bukti bahwa kamu sudah menerima gaji setiap bulan. Lagipula kalau ada slip gaji kamu jadi tahu berapa gaji pokok, tunjangan dan potongan-potongan gaji supaya lebih transparan,” ujar sahabatmu.

Makin galau..

Kenapa perusahaan tidak mau memberi slip gaji? Apakah sesulit itu mencetak sehelai slip gaji setiap bulan? Apakah ada yang ditutup-tutupi dari pemberian gaji setiap bulan? Jangan-jangan gaji saya dipotong ini dan itu yang tidak saya ketahui?

Kalau sudah berkaitan dengan gaji, semua bisa bikin pusing dan menjadi hal yang sensitif. Lalu apakah benar bahwa setiap perusahaan wajib memberikan slip gaji setiap bulan sebagai bukti telah dibayarkannya gaji pekerja?

Perusahaan WAJIB memberikan slip gaji

Untuk urusan hak dan kewajiban pekerja, perusahaan seringkali mengacu pada Undang-Undang Ketenagakerjaan (Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan). Namun hingga saat ini, belum ada ketentuan dalam UU Ketenagakerjaan bahwa setiap perusahaan wajib memberikan bukti/slip gaji kepada pekerja. Undang-undang tersebut mengatur secara jelas sistem penggajian dan upah pekerja namun tidak menjelaskan mengenai slip gaji sebagai bukti telah dibayarkannya gaji pekerja.

Berbeda dengan UU Ketenagakerjaan, peraturan mengenai pemberian slip gaji tertulis dalam Peraturan Pemerintah Nomor 78 Tahun 2015 tentang Pengupahan. Pada pasal 17 ayat (2) tertulis bahwa:

“Pengusaha wajib memberikan bukti pembayaran Upah yang memuat rincian Upah yang diterima oleh Pekerja/Buruh pada saat Upah dibayarkan.”

Maka jika berpatokan pada Peraturan Pemerintah Nomor 78 Tahun 2015 tentang Pengupahan, maka setiap perusahaan atau pemberi kerja wajib memberikan bukti pembayaran gaji (slip gaji) yang didalamnya memuat rincian upah yang diterima. Secara umum, rincian tersebut terdiri dari gaji pokok, tunjangan, dan potongan-potongan gaji. Pemberian slip gaji ini bisa berupa catatan yang tercetak atau tertulis sebagai bukti sah bahwa perusahaan atau pihak pemberi kerja telah membayarkan gaji.

Contoh slip gaji

Apa Pentingnya Slip Gaji?

Bagi pegawai:

Slip gaji akan membuat pegawai nyaman. Sebab dalam slip gaji tercatat semua rincian upah mulai dari gaji pokok, tunjangan jabatan, bonus, uang lembur, dan sebagainya. Termasuk juga potongan-potongan gaji seperti pajak penghasilan, BPJS, asuransi, potongan absensi dan sebagainya. Maka jika terjadi kesalahan pencatatan antara pegawai dan perusahaan, bisa ditelusuri sehingga gaji yang diberikan sesuai dengan yang seharusnya diterima pegawai.

Selain itu, slip gaji biasanya menjadi syarat jika pegawai ingin mengambil kredit barang atau KPR. Dengan adanya slip gaji, pemberi kredit bisa menghitung kesanggupan pembayaran hutang dari nilai gaji yang diterima pegawai setiap bulan.

Bagi perusahaan:

Slip gaji akan menjadi bukti otentik bahwa pihak perusahaan atau pemberi kerja telah memberikan gaji pegawai. Jika pegawai merasa belum mendapatkan gaji, pihak perusahaan bisa melakukan penelusuran dari slip gaji yang telah tercetak.

Slip gaji juga menjadi catatan bagi perusahaan untuk membayar pajak, BPJS dan sebagainya. Biasanya pemberian cetak slip gaji akan semakin mudah jika perusahaan sudah memakai software payroll. Dengan pemakaian software tersebut semua pencacatan mulai dari absensi, lembur, gaji, pajak dan potongan lainnya dapat tercatat secara otomatis. Maka ketika tiba masa pemberian gaji, semua catatan itu bisa diprint sebagai slip gaji.

Kalau perusahaan tidak memberi slip gaji, saya harus bagaimana?

Dalam praktiknya, masih banyak perusahaan yang belum memberikan slip gaji kepada pegawainya. Jika ini terjadi padamu, maka kamu harus menanyakan kepada pihak HRD. Kalaupun mereka memang tidak bisa memberikannya, kamu harus tahu dulu rincian gaji dan upah yang diberikan setiap bulan, termasuk prosentase potongan gaji setiap bulan. Catat mandiri secara manual dan cek setiap bulan! Jika terjadi selisih dengan jumlah gaji yang diterima, tanyakan selisih tersebut pada pihak HRD.

Namun jika kamu membutuhkan slip gaji sebagai bukti kepada pemberi kredit atau KPR maka pihak HRD wajib memberikan slip gaji tersebut, sebab slip gaji pada dasarnya adalah hak setiap pekerja.

Gajiku di Bawah UMK, Apakah Ini Melanggar Undang-Undang Ketenagakerjaan?

Gaji. Satu kata dengan banyak harapan dan persoalan di dalamnya. Sebagai seorang pekerja di perusahaan, mendapatkan gaji yang sesuai dengan skill dan pengabdian kepada perusahaan adalah harapan. Berbahagialah jika gaji yang kamu terima sudah sesuai dengan standar UMK (bahkan lebih dari nilai UMK) dan sesuai dengan apa yang sudah kamu berikan untuk perusahaan. Sebab di luar sana, ada banyak pekerja yang mendapat gaji di bawah UMK.

Lalu bagaimana jika posisimu justru sebagai pekerja yang mendapat upah kurang dari UMK setiap bulan, apakah berarti perusahaan telah melanggar undang-undang ketenagakerjaan?

Sebelum membahas lebih lanjut, mari membahas tentang Upah Minimum!

Pengertian Upah Minimum

Pengertian Upah Minimum tertuang dalam Peraturan Pemerintah No.78 tahun 2015 tentang Pengupahan:

Pasal 41:

  1. Gubernur menetapkan Upah minimum sebagai jaring pengaman.
  2. Upah minimum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan Upah bulanan terendah yang terdiri atas:
  3. Upah tanpa tunjangan; atau
  4. Upah pokok termasuk tunjangan tetap.

Pasal 42:

  1. Upah minimum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 41 ayat (1) hanya berlaku bagi Pekerja/Buruh dengan masa kerja kurang dari 1 (satu) tahun pada Perusahaan yang bersangkutan.
  2. Upah bagi Pekerja/Buruh dengan masa kerja 1 (satu) tahun atau lebih dirundingkan secara bipartit antara Pekerja/Buruh dengan Pengusaha di Perusahaan yang bersangkutan.

Pasal 43:

  1. Penetapan Upah minimum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 41 dilakukan setiap tahun berdasarkan kebutuhan hidup layak dan dengan memperhatikan produktivitas dan pertumbuhan ekonomi.
  2. Kebutuhan hidup layak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan standar kebutuhan seorang Pekerja/Buruh lajang untuk dapat hidup layak secara fisik untuk kebutuhan 1 (satu) bulan.

Dari tiga pasal tersebut dapat disimpulkan bahwa upah minimum adalah upah bulanan terendah yang diberikan perusahaan kepada pekerja. Upah tersebut dapat diberikan kepada pekerja yang baru satu tahun bekerja pada perusahaan yang bersangkutan dan masih berstatus lajang (belum menikah).

Sementara itu kita mengenal istilah UMK/UMP.

Dijelaskan dalam Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor 7 Tahun 2013 tentang Upah Minimum:

UMK adalah Upah Minimum yang berlaku di wilayah kabupaten/kota, sedangkan

UMP adalah UMP adalah Upah Minimum yang berlaku untuk seluruh kabupaten/kota di satu provinsi.

Jika peraturannya demikian, bagaimana dengan gajiku yang di bawah UMK?

Hal tersebut tidak dibenarkan, kecuali perusahaan sedang mengalami masa sulit sehingga tidak memungkinkan membayar gaji pegawai sesuai peraturan yang ditetapkan pemerintah. Namun kondisi tersebut juga harus berlandaskan hukum sehingga kekurangan gaji yang belum sanggup dibayar oleh perusahaan harus ditangguhkan.

Jika perusahaan dalam kondisi sehat namun punya sejuta alasan memberi gaji di bawah UMK/UMP maka kamu dapat menanyakan permasalahan tersebut kepada management perusahaan atau HRD. Sebab sudah ada peraturan pemerintah yang melarang perusahaan membayar upah di bawah upah minimum setiap bulan.

Berdasarkan Undang-Undang RI Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan Pasal 90:

(1) Pengusaha dilarang membayar upah lebih rendah dari upah minimum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 89.

(2) Bagi pengusaha yang tidak mampu membayar upah minimum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 89 dapat dilakukan penangguhan.

(3) Tata cara penangguhan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) diatur dengan Keputusan Menteri.”

Hal yang sama juga dituangkan dalam Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor 7 Tahun 2013 tentang Upah Minimum Pasal 15:

(1) Pengusaha dilarang membayar upah lebih rendah dari Upah Minimum yang telah ditetapkan.

(2) Upah Minimum hanya berlaku bagi pekerja/buruh yang mempunyai masa kerja kurang dari 1 (satu) tahun.

Maka dapat disimpulkan bahwa perusahaan tidak boleh memberi upah kurang dari UMP/UMK setiap bulannya. Kecuali kondisi perusahaan sedang sulit dan memang ada keputusan dari pihak berwenang bahwa gaji pekerja ditangguhkan.

Lalu bagaimana jika perusahaan tetap memberi upah kurang dari UMK/UMP?

Kamu dapat menanyakannya kepada atasan atau HRD dan mempelajari undang-undang yang berhubungan dengan ketenagakerjaan. Sebab perusahaan yang memberi upah di bawah upah minimun bisa dikenakan ancaman pidana penjara paling singkat 1 tahun dan paling lama 4 tahun dan/atau denda paling sedikit Rp100 juta dan paling banyak Rp400 juta.

Menempuh jalur hukum bisa dilakukan, namun dari pengalaman teman-teman saya dengan masalah yang sama, mereka enggan bila harus repot menempuh jalur hukum “Aku cuma pegawai kecil, akan repot jika melawan perusahaan besar. Sementara ini aku bertahan dulu sambil mencari perusahaan yang lebih layak,” demikian penuturan salah satu teman saya.

Karena gaji berhubungan langsung dengan kelangsungan hidupmu, semua kembali padamu. Apakah kamu akan diam saja, menempuh jalur hukum, atau kamu lebih memilih untuk ganti perusahaan.

Tidak Pernah Cuti Berdampak Buruk Bagi Kesehatan dan Urusan Cinta

Cuti adalah hak setiap pekerja. Jika kamu punya jatah cuti tahunan tetapi sengaja tidak pernah mengambilnya dengan alasan cuti yang tidak diambil bisa diuangkan atau memang enggan mengambil cuti, hal tersebut justru bisa membahayakan dirimu sendiri. Jangan pernah berpikir bahwa mereka yang sering cuti untuk liburan adalah pegawai yang malas sementara pegawai yang tidak pernah ambil cuti adalah pegawai yang rajin. Ada alasan mengapa setiap negara mengatur jumlah cuti tahunan untuk para pekerja, termasuk pemerintah di Indonesia.

Kalau kamu termasuk golongan pegawai yang sengaja tidak mau mengambil cuti dengan alasan-alasan di atas, coba baca artikel ini sampai habis!

Tidak Pernah Cuti Liburan Merusak Hubungan Cinta dan Rumah Tangga

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Project: Time Off pada tahun 2013 di Amerika Serikat menunjukkan bahwa 42 persen pekerja di negara tersebut tidak pernah liburan. Jumlah pegawai yang mengambil cuti juga mengalami penurunan hari dari 20 hari cuti menjadi hanya 16 hari cuti pertahun. Selain berdampak buruk pada kesehatan, tidak pernah atau semakin menurunnya waktu untuk liburan ternyata berdampak buruk pada hubungan cinta dan keluarga.

Survei dilakukan pada 1.214 orang dewasa di Amerika Serikat, 85% responden yang tidak pernah menggunakan cuti liburan mengaku kehilangan waktu berkualitas bersama anak-anak mereka. Sementara itu dalam penelitian ini ditemukan bahwa 36% kasus pertengkaran pasangan terjadi karena salah satu atau keduanya terlalu sibuk dengan pekerjaan tanpa waktu santai untuk dinikmati berdua.

Melihat kondisi ini, Dr. Gilda Carle, seorang ahli dalam hal relationship dan penulis buku “Don’t Bet on the Prince!” mengungkapan bahwa banyak laporan dari konflik rumah tangga dan pasangan yang terjadi karena pasangan lebih memilih menghabiskan waktu untuk bekerja dibandingkan menikmati waktu berkualitas untuk hubungan mereka. “Terlalu sibuk bekerja sehingga mereka tidak saling berbicara sampai tiba waktunya mereka menyadari ada sesuatu yang hilang dan yang hilang tersebut adalah saling berbicara,”

Bekerja memang penting, namun waktu untuk keluarga, pasangan dan orang yang dicintai juga berharga. Tidak seharusnya waktu-waktu istimewa seperti ulang tahun, event sekolah anak, liburan, kunjungan keluarga dan perayaan Hari Raya harus dikorbankan untuk pekerjaan. Beruntung, beberapa perusahaan besar sudah menerapkan aturan bahwa pegawai mereka harus liburan, suka atau tidak suka. Sebab cuti dan liburan memang seharusnya dinikmati oleh setiap pegawai.

Tidak Pernah Cuti Liburan Merusak Kesehatan Fisik dan Mental

Jika kamu sayang kesehatan, maka pastikan semua jatah cuti tahunan kamu nikmati dan akan lebih bagus jika cuti itu dipakai untuk liburan. Sudah banyak penelitian menunjukkan hubungan antara menikmati liburan dan kesehatan. Penelitian Framingham mengambil data dari tahun 1948 hingga 1991 menunjukkan bahwa wanita yang hanya berlibur 2 kali setahun memiliki risiko terkena serangan jantung dua kali lebih besar dibanding wanita yang berlibur 6 kali dalam setahun. Para pria juga memiliki risiko yang sama. Dalam penelitian dari American Journal of Epidemiology menunjukkan bhawa pria yang bekerja sepuluh jam atau lebih setiap hari akan meningkatkan risiko jantung koroner sebanyak 80%.

Man Working At Laptop In Home Office

Selain merusak kesehatan fisik, tidak pernah atau jarangnya cuti liburan juga buruk untuk kesehatan mental. Penelitian yang dilakukan oleh Sweden’s Uppsala University menemukan bahwa orang-orang yang gemar liburan dapat meningkatkan kesehatan mental mereka, terutama jika pekerjaan mereka memicu stres dan depresi. Liburan dapat membuat mereka lebih santai dan mengurangi penggunaan obat-obat antidepresan.

Cuti dan liburan tak hanya bermanfaat untuk pegawai, sebab perusahaan bisa mendapat efek baik jika pegawai mereka memanfaatkan cuti tahunan dengan berlibur. Santa Barbara, seorang psikolog dari University of California mengungkapkan bahwa pegawai yang rutin berlibur memiliki peningkatan kinerja. Mereka menjadi lebih cepat menyelesaikan masalah secara efisien. Selain itu mereka bisa memberi lebih banyak ide-ide kreatif dalam waktu singkat dibanding rekan kerja mereka yang jarang atau tidak pernah liburan.

Sering Liburan Bukan Berarti Malas dan Buang Uang

Poin inilah yang harus dipahami pegawai, termasuk atasan, HRD dan perusahaan. Bahwa cuti yang diambil pegawai untuk berlibur bisa memberikan banyak dampak positif. Pegawai yang sering memanfaatkan cuti tahunannya untuk berlibur justru bagus untuk mereka dan perusahaan itu sendiri. Mungkin liburan seperti ini tampak seperti menghabiskan uang dan malas, padahal tidak. Maka janganlah menahan-nahan mereka jika ingin cuti dan liburan (selama jatah cuti tahunan mereka memang masih ada).

Dan untuk pegawai, jangan juga menahan-hanan cuti karena sisa cuti tahunan bisa diganti dengan uang. Kadang kebahagiaan saat liburan tidak tergantikan nilainya, apalagi jika liburan bersama pasangan, keluarga, sahabat atau orang yang kamu sayang.

Lalu bagaimana agar catatan cuti pegawai tidak tercecer dan berantakan? Serahkan saja urusan catat mencatat cuti ini pada software absensi. Urusan pencatatan beres, pegawai bahagia, urusan pekerjaan jadi lebih baik karena dari cuti liburan tersebut ada energi lebih untuk bekerja lebih efisien.

Rejeki di Kantor Tidak Melulu Tentang Gaji Tinggi

Saat sedang ngobrol santai dengan teman-teman, saya sering mendengar keluhan mengenai gaji. Wajar sih, karena sebagai pegawai, gaji adalah segala-galanya. Untuk apa kita kerja? Ya untuk dapat gaji.

Padahal jika dilihat dalam sudut pandang yang lebih luas, bekerja di sebuah perusahaan tidak sekedar mengenai gaji yang diterima setiap bulan. Berbahagialah jika kamu bekerja tidak hanya sekedar demi gaji bulanan, sebab dengan bekerja kamu dapat meningkatkan skill, punya kemampuan lain di luar jobdesk harian, melatih kesabaran (saat menghadapi boss dan rekan kerja yang kadang menyebalkan, dan yang pasti punya banyak pengalaman yang lebih dari sekedar materi.

Faktanya, banyak orang bergaji tinggi tetapi tidak bahagia dengan pekerjaannya. Ada juga pegawai dengan gaji biasa saja tapi kelihatan happy banget dan hidupnya berkecukupan. Jika menakar-nakar rejeki yang di dapat di kantor, rasanya memang kurang bijak jika hanya diukur dari nominal gaji. Memang sih.. gaji besar adalah impian banyak orang. Namun jika kamu merasa gaji yang diterima saat ini masih di angka kecil sementara teman-temanmu lebih besar nominalnya, jangan sedih! Bukan berarti Tuhan tidak sayang padamu dan pelit rejeki. Sebab ada rejeki-rejeki lain di luar gaji yang harus kamu syukuri setiap hari.

Lingkungan Kantor yang Menyenangkan

Coba lihat lingkungan perusahaan atau kantormu saat ini. Jika ruanganmu sejuk, nyaman, gampang menemukan tempat makan dan jauh dari daerah kriminal dan daerah kumuh, maka bersykurlah kamu. Di luar sana, ada banyak orang yang harus kepanasan karena ruang kerjanya tidak ber-AC bahkan pengap tanpa sirkulasi udara yang bagus.

Jika kamu masih bisa memakai headset sambil mendengarkan lagu-lagu dari PC atau smartphone-mu, itu juga rejeki. Sebab ada banyaaak perusahaan yang melarang pegawainya memutar lagu bahkan dengan memakai headset milik sendiri. Dan lebih rejeki lagi jika perusahaan tempatmu bekerja sekarang mengizinkan pegawai untuk menikmati fasilitas internet untuk nonton Youtube dan sebagainya saat jam istirahat.

Teman Kantor yang Asyik

Teman-teman kantormu masih muda, berjiwa kreatif dan anti nyinyir? Wah ini rejeki super duper yang harus kamu syukuri. Ada pepatah mengatakan kamu akan menjadi seperti orang-orang yang sering kamu jumpai. Karena mereka-mereka ini akan menjadi bagian dari hidupmu setiap hari, maka sikap dan pola pikir mereka akan menentukan kebahagiaanmu.

Saya pernah bekerja di kantor yang pegawainya sudah bapak-bapak dan ibu-ibu, yang boleh dibilang pemikirannya kurang asyik untuk pegawai muda seperti saya. Belum lagi mereka hobi bergosip yang bikin jengah. Atau iri-irian karena ada pegawai yang baru beli tas yang lumayan mahal. Begitu saya pindah ke perusahaan kreatif dengan teman-teman kantor seumuran, saya jauuuuh.. lebih bahagia. Makanya.. teman kantor yang asyik dan bikin bahagia adalah rejeki yang luar biasa.

Transparansi Gaji dan Pencatatan Payroll yang Rapi

Gajimu saat ini mungkin baru sedikit di atas UMK, tetapi jika pencatatannya rapi, itu adalah rejeki. Sebab ada banyak pegawai di luar sana yang tidak tahu berapa gaji pokoknya, berapa potongan pajak, BPJS Kesehatan dan lain sebagainya. Bahkan meminta slip gaji untuk mengajukan kredit sepeda motor ke HRD susahnya luar biasa. Maka bersyukurlah jika kamu saat ini bekerja di perusahaan yang sudah memakai software pencatatan payroll yang rapi.

Dengan transparansi gaji yang diberikan, kamu bisa memiliki catatan sendiri pada perolehan gaji, uang bonus, THR dan sebagainya. Maka kamu tidak akan menduga-duga kemana ‘hilangnya’ gaji setiap bulan karena ada potongan-potongan yang memang harus dilakukan setiap perusahaan.

Atasan yang Baik dan Loyal

Punya atasan yang baik adalah doa kedua para pegawai setelah gaji tinggi. Boleh jadi gajimu susah naik karena management atas punya banyak pertimbangan, namun jika atasanmu langsung adalah orang yang baik, loyal dan siap mendengar segala curhat yang berhubungan dengan pekerjaan, maka bersyukurlah kamu. Atasan tipe jenis ini sangat jarang ada. Sebab banyak atasan tipe boss yang arogan dan tidak mau tahu yang penting pekerjaan bawahan beres.

Boleh jadi atasanmu ini belum bisa memastikan kapan gaji kamu akan naik, namun dia bisa menjanjikan bahwa kamu bisa menceritakan keluh kesah apapun yang berhubungan dengan jobdesk dan management perusahaan. Ya.. walaupun belum ada kepastian soal gaji, setidaknya hatimu tenang karena ada atasan yang peduli dengan problem yang terjadi di area kantor.

Bisa Menikmati Hobi/Kebahagiaan di Luar Kantor

Walau gaji pas-pasan, tetapi kamu masih ada waktu untuk nonton K-Drama, atau kamu masih punya waktu untuk bereksperimen dengan masak-memasak yang jadi hobimu. Kamu juga masih ada waktu untuk kumpul-kumpul dengan keluarga dan sahabat tanpa diganggu telepon dari boss soal deadline pekerjaan. Kamu masih punya waktu di luar kantor untuk bersenang-senang dan menikmati hidup walaupun sederhana dan harus berhemat.

Janganlah iri dengan foto Instagram teman-temanmu yang sedang berlibur ke negara lain atau memajang barang-barang branded. Sebab ada banyak orang yang tidak bisa menikmati jam-jam bebasnya walaupun sedang mengambil cuti liburan. Ada.. saja telepon atau WA dari boss yang mengganggu ketentraman jiwa raga. Maka jika kamu masih menemukan banyak kebahagiaan walau sederhana di luar jam kantor, berbahagialah. Sebab hidup tak hanya untuk mengejar gaji.

8 Alasan Bohong Yang Sering Dilakukan Pegawai Demi Bolos Kerja

Wahai HRD dan para manager, kalian harus lebih ketat mengawasi pegawai yang absen kerja dengan berbagai alasan. Bisa jadi mereka beralasan sedang sakit atau ada kepentingan urgent, padahal itu hanya alasan bohong.

Memang sih.. tidak semua pegawai berbohong mengenai kondisi mereka yang butuh istirahat (saat sedang sakit misalnya) atau sedang ada kepentingan urgent (biasanya berhubungan dengan keluarga). Namun sebuah penelitian yang dilakukan oleh CareerBuilder pada tahun 2016 menemukan bahwa 35 persen pegawai pernah izin sakit padahal mereka sehat-sehat saja. Alasan terbanyak mereka berbohong adalah malas kerja dan butuh waktu untuk santai. Angka ini meningkat 5 persen dibanding penelitian yang sama pada tahun 2012. Tidak menutup kemungkinan angka ini bertambah setiap tahun.

Melihat fenomena ini, saya menanyakan beberapa teman apakah mereka pernah berbohong sedang sakit atau ada kepentingan urgent kepada atasan/HRD demi bisa bolos kantor. Ternyata, hampir semua teman saya pernah melakukan kebohongan yang sama. Inilah pengakuan mereka dengan berbagai alasan dan kebohongan yang berbeda-beda.

1. Deadline Kerjaan Belum Selesai

“Ya pernahlah ngebolos gara-gara deadline kerjaan belum beres. Alasanku pura-pura sakit, tapi aku nggak kemana-mana kok. Malah di rumah doang seharian nyelesein deadline. Kalau dikejar di kantor nggak bakal selesai karena berisik banget suasananya,” – J, 23 tahun, editor media online.

2. Butuh Waktu Sendirian

“Pernah beberapa kali ngebolos alasan nggak enak badan. Penyebabnya karena butuh waktu sendirian. Mungkin karena aku introvert kali ya? Pokoknya kalau kantor baru selesai event besar atau keluar kota pinginnya sendirian seharian. Kalau nggak gitu bisa pusing beneran hahahaha..” O, 25 tahun, pegawai sebuah event organizer.

3. Lagi Malas Kerja dan Badmood

“Kadang ngebolos karena lagi males kerja. Biasanya kalau bangun pagi udah badmood bawaannya males ngantor. Pernah juga ngebolos gara-gara lagi ada masalah sama teman kantor. Paling alasan lagi sakit, tapi nggak kemana-mana juga sih, takut ketahuan,” V, 26 tahun, back office bank swasta.

4. Ngantuk Karena Lihat Pertandingan Sepak Bola

“Pernah ngebolos sekali, gara-gara ngebelain nonton MU tanding tengah malam banget. Wah parah deh itu, tidur jam 3 subuh, bangun kesiangan banget. Daripada nelat yaudah izin nggak masuk sekalian alasannya sakit. Untung ga perlu pakai surat dokter,” A, 24 tahun, tim IT.

5. Ngejar Nonton K-Drama

“Aku pernah pura-pura izin karena sakit menstruasi. Waktu itu memang lagi menstruasi tapi nggak sampai sakit yang gimana.. Inget banget waktu itu aku lagi marathon Descendants of the Sun dan gemes tinggal 5 episode terakhir pingin cepet tau endingnya. Yaudah seharian cuma nonton sampai tamat,” Y, 28 tahun, staff finance.

6. Ingin Liburan Tapi Jatah Cuti Sudah Habis

“Pernah waktu harpitnas (Hari Kejepit Nasional) akhir tahun. Waktu itu jatah cutiku habis tapi dapat tawaran paket tour murah 4 hari ke Karimun Jawa. Yaudah bilang ke HRD kalau sakit. Tapi ya gitu, gara-gara ‘lagi sakit’ jadi nggak bisa pamer foto liburan di sosmed hahaha..” P, 27 tahun, pegawai dealer motor.

7. Pacar Datang Dari Luar Kota

“Ya pernahlah ngebolos kantor. Gara-gara setahun lalu aku mulai LDR dan pacar ada waktu buat datang ke Jakarta tapi nggak pas weekend. Yaudah aku alasan sakit satu hari. Tapi nggak berani nge-mall jauh-jauh, cuma ngafe dekat kosan dari pagi sampai malam. Cuma sekali itu sih, sisanya aku rajin dong..” H, 24 tahun, tim auditor.

8. Sedang Patah Hati

“Penah ngebolos sampai 2 hari gara-gara baru putus. Sumpah malu banget kalau inget. Beneran tapi, waktu itu aku sampai nggak makan, males mandi, dua hari cuma nangis. Alasannya sih sakit. Karena dua hari beneran kayak orang gila, begitu masuk semua percaya kalau aku baru sakit. Ahahaha.. iya sih sakit, sakit hati. Untung sekarang udah baikan dan semoga nggak terulang lagi,” I, tim kreatif televisi.

Dengan adanya kenyataan seperti ini, tentu akan lebih tepat bagi HRD untuk melakukan pengecekan dan pencatatan absensi dengan sistem yang baik. Pencatatan absensi pegawai dengan software payroll akan memudahkan alur data dari jumlah absensi hingga gaji. Selain itu, tak ada salahnya melakukan pengecekan pada pegawai yang seringkali izin masuk. Salah satu caranya bisa dengan melihat catatan kesehatan dari dokter tempat dia memeriksakan kesehatan atau penelusuran lain yang lebih cocok dengan sistem kepegawaian di perusahaan.

Kebijakan kantor mengenai absensi tentu penting jika digunakan dengan bijak dan tepat, namun hal-hal seperti kebohongan absensi akan lebih baik jika tidak menjadi kebiasaan para pegawai yang pada akhirnya berdampak pada efektivitas kerja.

“Bos, saya izin tidak masuk karena sakit,” Padahal.. Sedang Malas Kerja

Apakah kamu pernah izin sakit tidak masuk kantor padahal sebenarnya kamu tidak sedang sakit?

Well, kamu tidak sendirian jika menjawab “Pernah!”.

Siapa sih yang mau sakit? Setiap orang pasti ingin sehat dan fit sepanjang waktu. Namun ada saja kondisi kesehatan yang memaksa seorang pegawai untuk istirahat dan tidak masuk kantor. Alasan ini bisa diterima oleh HRD sebab hampir semua kantor di dunia memiliki kebijakan untuk memberikan izin tidak masuk bagi pegawai yang sedang sakit, dengan atau tanpa surat sakit dari dokter. Sayangnya, kebijakan dari kantor sering disalahgunakan oleh banyak pegawai.

30 Persen Pegawai Pernah Berbohong Sedang Sakit

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh CareerBuilder pada tahun 2012 menemukan bahwa sebanyak 30 persen pegawai yang izin sakit sebenarnya dalam kondisi sehat-sehat saja. Lalu mengapa sampai berbohong demi tidak masuk kantor? Jawaban dari pertanyaan tersebut ditemukan dalam penelitian yang sama. Alasan paling utama mengapa mereka berbohong sedang sakit adalah tidak ada keinginan untuk bekerja atau ingin malas-malasan dan butuh waktu santai.

Untuk para HRD, atasan dan teman sekantor, alasan sakit yang dibuat-buat ini tentunya mengesalkan dan merugikan. Tetapi fakta lapangan menunjukkan bahwa kebohongan ini adalah kebohongan paling populer di wilayah kantor. Dengan banyaknya kebohongan jenis ini, 29 persen dari manager yang tergabung dalam penelitian mengungkapkan bahwa mereka memeriksa dengan ketat pegawai mereka yang tidak masuk karena izin sakit. Mereka memastikan bahwa pegawai mereka benar-benar sakit dan tidak berbohong hanya karena malas kerja.

Awas Kebohonganmu Terbongkar!

Cara yang dilakukan para manager/supervisor/HRD untuk mengecek kebenaran dari sakit pegawai adalah dengan menelepon sang pegawai dan melihat rekam kesehatan yang ada pada dokter. Selain cara tersebut, para atasan bahkan sampai menanyakan pada rekan kerja pegawai tersebut untuk memastikan dia benar-benar sakit atau tidak. Sementara cara yang lebih ekstrim dilakukan atasan dengan datang langsung ke rumah/kosan tempat tinggal si pegawai. Sampai seniat itulah para atasan dan HRD mengantisipasi banyaknya absensi dengan alasan sakit yang sebenarnya bohong.

Sebagai penulis artikel ini, saya meyakini bahwa beberapa pembaca juga pernah melakukan kebohongan yang sama. Jika kamu memang pernah melakukannya, hati-hati! Sebab jika atasan atau HRD mengetahui kebohonganmu, ini akan berpengaruh pada absensi, nilai kepegawaian, gaji bahkan menunda promosi kenaikan jabatanmu. Ditambah lagi, saat ini ada banyak software payroll dan software absensi yang bisa mencatat semua ‘dosa-dosa’ yang telah kamu lakukan selama bekerja. Maka pastikan kamu tidak coba-coba berbohong sedang sakit padahal sehat-sehat saja.

Pura-Pura Sakit Paling Banyak Saat Libur Kejepit dan Setelah Libur Panjang

Masih dalam penelitian yang sama, walaupun penelitian ini dilakukan di Amerika Serikat, tenyata ada kesamaan kebiasaan buruk pegawai dengan kondisi di Indonesia. Bohong tentang sakit ini banyak dilakukan pegawai ketika menemukan hari libur yang ‘terjepit’ dan lebih banyak lagi setelah libur musim panas berakhir (kalau di Indonesia mirip dengan libur Lebaran) dan kebohongan soal sakit ini meningkat tajam ketika libur panjang awal tahun baru berakhir. Melihat fenomena ini, biasanya pihak HRD dan para atasan punya banyak cara untuk menghentikan kebiasaan berbohong para pegawainya. Cara tersebut mulai dari pemotongan gaji jika ketahuan berbohong hingga memberikan Surat Peringatan.

Dari hasil penelitian ini bisa dilihat bahwa pegawai di beberapa negara memiliki kebiasaan buruk yang sama. Maka pihak HRD memang seharusnya memiliki pengawasan ketat kepada para pegawai. Kalaupun mereka butuh waktu untuk istirahat dan ingin santai, para pegawai bisa memanfaatkan cuti tahunan mereka. Dan jika yang membaca tulisan ini adalah pegawai, tutup pikiran untuk melakukan kebohongan yang sama. Seperti yang sudah saya tuliskan di atas, kebohonganmu bisa menjadi nilai merah yang memotong gaji bahkan menunda promosi jabatanmu. Be wise!

Buat Yang Ingin Gaji Naik dan Karir Meningkat, Rajin Saja Tidak Cukup!

Jika saat ini kamu sudah bekerja di kantor, apa impianmu?

Punya penghasilan atau gaji yang besar adalah jawaban dari mayoritas pekerja. Sehingga tidak heran ada banyak sekali artikel tentang bagaimana cara agar cepat naik gaji. Hal tersebut tidak salah kok, punya gaji besar sesuai kapasitas kerja bukan impian yang buruk, justru bagus. Mematok angka gaji di nilai sekian bisa menjadi motivasi kerja.

Namun ada kalanya, kamu sudah bekerja dalam hitungan tahun tetapi gaji masih saja seret. Bahkan lebih ngenesnya, si junior yang baru masuk kerja dalam waktu yang lebih singkat sudah melejit jabatan dan gajinya. Padahal kalau dilihat-lihat, skill-nya hampir sama denganmu, bahkan kamu mungkin lebih rajin dan semangat saat bekerja. Tapi kenapa dia yang lebih cepat naik gaji dan jabatan? “Jangan-jangan si junior punya cara licik sehingga mudah sekali naik jabatan dan gaji..”

Wait a minute..

Jangan keburu berpikir yang buruk. Sebab rajin saja memang tidak cukup untuk meningkatkan karir dan gajimu. Rajin adalah hal yang bagus dan salah satu modal agar atasan dan pihak HRD memberi jalan mulus menuju impianmu. Namun jangan lupa memperhatikan hal-hal ini:

Perusahaan Menentukan Besaran Gaji

Salah satu trik mendapatkan gaji tinggi adalah melihat besar dan reputasi perusahaan sejak awal. Mengapa ada banyak orang memburu kantor-kantor besar bergengsi yang logonya sering kamu lihat di mana-mana? Karena perusahaan tersebut memiliki standar tinggi dan lebih mungkin memperhatikan kesejahteraan pegawainya, baik melalui gaji, tunjangan bahkan pendidikan si karyawan. Jika sudah diterima di perusahaan jenis ini, potensi gaji besar sudah ada sejak awal masuk.

“Yah.. tapi tempatku bekerja saat ini kantor biasa dan tidak bergengsi..”
Tenang, kamu tidak sendirian. Walaupun kantormu sekarang level medium bahkan kecil, poin-poin di bawah bisa mengantarkanmu ke gaji idaman.

Perhatikan Absensimu!

Absensi menjadi salah satu faktor yang dirancang untuk menilai produktivitas pegawai. Maka perhatikan baik-baik hal-hal seputar izin tidak masuk, keterlambatan jam masuk, izin sakit, cuti dan hal-hal seputar absensi. Faktor ini semakin diperhatikan jika kamu bekerja dalam tim. Yang mana bila salah satu sering absen akan mengacaukan kerja tim secara keseluruhan. Maka perhatikan seksama hal-hal yang berkaitan dengan absensi. Jangan sampai nilai kamu jadi minus hanya karena sering tidak masuk dan terlambat dengan alasan tidak jelas.

Ingat ya! Absensi tidak hanya sekedar pencatatan yang berhubungan dengan payroll dan gaji, sebab nilai absensi yang baik akan memudahkan jalan mulusmu untuk mendapat promosi jabatan dan kenaikan gaji. Ditambah lagi, teknologi semakin maju, semakin banyak mesin absensi yang dipakai untuk mencatat semua data absensi pegawai secara akurat. Maka pastikan nilai absensimu tidak merah!

Speak Up! Keluarkan Ide-Ide Terbaikmu

Ada 2 pegawai, yang satu skill bagus, cerdas, attitude baik dan rajin. Namun setiap kali meeting hanya diam dan baru bicara ketika ditanya. Sementara pegawai satu lagi dengan kelebihan yang sama tidak sungkan dan tidak malu mengeleuarkan ide dan pendapatnya saat meeting atau saat berbagi ide. Sudah kelihatan siapa yang lebih berpotensi mendapat promosi jabatan lebih cepat? Pegawai kedua lebih mungkin untuk memiliki karir yang lebih baik.

Kemampuan untuk berkomunikasi dan keberanian untuk berbicara menjadi salah satu kunci sukses (terutama di kantor). Slogan diam itu emas kadang tak berlaku. Maka setiap kali ada meeting dan terbuka kesempatan untuk mengeluarkan ide serta pendapat, jangan malu dan jangan takut untuk berbicara. Ini memang tidak mudah, namun bisa dilatih. Jangan takut terlihat bodoh atau salah ide, sebab tak ada ide mentah yang 100% jenius saat dicetuskan.

Kamu Harus Terkenal

Masih berkaitan dengan poin sebelumnya, pegawai yang terkenal (terutama di kalangan management atas) lebih mungkin untuk mendapat promosi jabatan dan mendapat bonus (atau kenaikan gaji). Menjadi terkenal di sini bukan berarti harus jadi ‘penjilat’ yang bersikap baik hanya untuk mendapat keuntungan bagi diri sendiri. Jadilah terkenal dengan skill-mu, sikap baikmu, dan keramahanmu.
Kenapa sih jadi terkenal itu penting?

Misalnya nih, management sedang butuh orang untuk mengerjakan sebuah proyek dan kekurangan orang, jika kamu terkenal akan skill-mu, kesempatan untuk.. “Gimana kalau kita ikut sertakan Ardi di proyek ini, dia jago banget skill desainnya. Di acara ulang tahun kantor kemarin dia yang bikin poster dan layout dekorasi acara,”

Paham kan? Pastikan kamu terkenal dengan skill yang kamu miliki dan pastikan pihak management atas mengenalimu dari skill dan hal-hal positif yang bisa membuat mereka percaya bahwa kamu memang layak untuk mendapatkan posisi yang lebih bagus dan gaji yang lebih tinggi.